Komisi XII Sebut Indonesia Tidak Suntik Mati PLTU, Ketahanan Energi Nasional Jadi Pertimbangan
JAKARTA, investortrust.id - Anggota Komisi XII DPR yang membidangi energi dari Fraksi Partai Gerindra Ramson Siagian menyebut, Indonesia tidak akan memberlakukan pensiun dini atau menyuntik mati PLTU batu bara jika belum waktunya. Pasalnya, itu bisa mempengaruhi ketahanan energi nasional.
Ramson tidak memungkiri bahwa opsi menyuntik mati PLTU memang ada. Namun, hal itu tidak akan dipaksakan jika permintaan listrik masih tinggi, sedangkan pembangkit pengganti belum ada.
Baca Juga
IESR Sebut 72 PLTU Batu Bara Berkapasitas 43,4 GW Mesti Dipensiunkan hingga 2045
“Tidak pensiun dini sebenarnya. Jadi fase selesainya kontrak dengan IPP (independent power producer), pada saat itu ada dua alternatif untuk PLN. Pertama dipensiunkan. Kedua, kalau demand-nya masih tinggi, supply kurang siap menyesuaikan,” kata Ramson saat ditemui di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (23/4/2025).
Pemerintah tengah mengupayakan pengembangan pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT), seperti tenaga surya, hidro, geotermal, hingga nuklir. Namun, Ramson memandang pembangunan pembangkit-pembangkit tersebut membutuhkan waktu tidak sedikit.
“Artinya kalau pembangunan pembangkit listrik, apalagi energi baru terbarukan itu memerlukan waktu lama. Biasanya lebih lama daripada membangun PLTU,” ujar dia.
Menurutnya, bukan sesuatu yang salah untuk tidak terburu-buru menyuntik mati PLTU. Sebab, Amerika Serikat (AS) juga telah memutuskan keluar dari Paris Agreement dan kembali mengandalkan energi fosil.
Baca Juga
Ramson memandang, langkah yang dibuat Amerika tersebut demi menjaga ketahanan energi nasionalnya. Maka dari itu, Indonesia juga semestinya mempertimbangkan ketahanan energi di dalam negeri sebelum mengambil langkah besar. “Jadi itu kalau langsung di-delete itu PLTU, bisa-bisa kita defisit. Supply energi listrik kita kan berbahaya itu,” ucap Ramson.
Kendati demikian, agar PLTU batu bara ini tidak merusak lingkungan, Ramson mengatakan, perlu adanya teknologi carbon capture and storage (CCS) atau carbon capture, utilization, and storage (CCUS). Meskipun, dia tidak memungkiri bahwa teknologi tersebut masih mahal. “Jadi PLTU-nya bisa dibangun CCS. Memang teknologi itu cukup bagus, tetapi harus investasi. Kalau sudah investasi, harga per kwh tidak tinggi,” sebut Ramson.

