DME Tetap Lanjut, Bahlil Dorong Hilirisasi Batu Bara Jadi Hidrogen
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pemerintah berencana mendorong hilirisasi batu bara menjadi hidrogen. Menurutnya, ini adalah peluang yang harus dimanfaatkan dengan baik.
Sejauh ini, pemerintah telah mengupayakan hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME). Namun, Bahlil menyebut bahwa hilirisasi batu bara bisa dijalankan ke arah lain untuk memaksimalkan potensinya, termasuk untuk hidrogen.
Baca Juga
Harga Nikel dan Batu Bara Diproyeksi Terjungkal 5 Tahun ke Depan, Bisa Turun 50%
"Hilirisasi dari batu bara ini kan tidak hanya DME, dia bisa mendapatkan metanol. Dia juga bisa menjadi bahan gas, dia juga bisa untuk hidrogen," ujar Bahlil saat ditemui di Jakarta International Convention Center (JICC), Selasa (15/4/2025).
Maka dari itu, Bahlil mempersilakan kepada para investor untuk melakukan hilirisasi batu bara ke berbagai produk turunan. Dia berjanji pemerintah akan memberikan dukungan untuk menjalankan program hilirisasi.
"Jadi silakan teman-teman investor yang membangun industri, mau pilih produk apa, pasti pemerintah akan fasilitasi. Jadi tidak terbatas hanya pada DME, semuanya. Yang mereka mau apa, kita kasih," kata mantan Menteri Investasi tersebut.
Bahlil memaparkan bahwa potensi hilirisasi batu bara di Indonesia sangat besar. Sebab, Indonesia memiliki cadangan batu bara terbesar keenam dunia yang diperkirakan mencapai 35 miliar ton. "Oleh karena itu, bagi para investor, tidak perlu ragu karena kita memiliki potensi besar sebagai salah satu penghasil batu bara terbesar di dunia," ucap Bahlil.
Baca Juga
Lebih lanjut, Bahlil menyampaikan, salah satu alasan pemerintah mendorong hilirisasi batu bara karena selama ini baru bara memiliki persepsi kurang bagus karena dinilai sebagai energi kotor. Namun, jika sudah melalui proses hilirisasi, bisa menjadi substitusi bagus untuk energi baru terbarukan (EBT).
"Ini (batu bara) bisa menghasilkan produk turunannya yang baik. Yang menyangkut dengan regulasi seperti apa, ini kan barang baru. Jadi kita akan melakukan diskusi lebih mendalam, bagaimana bisa merespons investor yang masuk melakukan investasi di hidrogen," ujar Bahlil.

