Indonesia Bakal Punya Tambahan 140 MW Pembangkit Panas Bumi Tahun Ini
JAKARTA, investortrust.id - Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API) mengungkapkan, pada 2025 rencananya akan dipasang tambahan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) berkapasitas 140 megawatt (MW).
Ketua Umum API Julfi Hadi menyebutkan, total kapasitas tersebut berasal dari sejumlah pembangkit yang tersebar di beberapa lokasi di Tanah Air, di antaranya Gunung Ijen dan Gunung Salak.
Baca Juga
“Jadi sekitar 140 MW additional, mungkin dari Ijen sekitar 35 MW,” kata Julfi acara press conference The 11th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2025, Senin (14/4/2025).
Pria yang juga menjabat direktur utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk ini membeberkan, kapasitas 140 MW tersebut juga berasal dari beberapa pembangkit milik Pertamina Geothermal Energy (PGE) di wilayah kerja panas bumi (WKP) Lumut Balai berkapasitas 55 MW. Selain itu, tambahan dari WKP Gunung Salak (15 MW) dan beberapa lainya berasal dari KS Orka.
Saat ini Indonesia memiliki PLTP terpasang berkapasitas 2,68 gigawatt (GW). Angka tersebut menempatkan Indonesia berada di posisi kedua sebagai negara dengan pembangkit panas bumi terbesar di dunia, berada di bawah Amerika Serikat (AS).
Kendati demikian, Julfi mengatakan, asosiasi dan pemerintah akan terus mendorong percepatan pembangunan PLTP di Indonesia hinngga mencapai 5 gigawatt (GW) pada 2030 mendatang. “Intinya percepatan supaya tahun-tahun depan kita bisa mencapai 5.000 MW pada 2030 dan tentu menjadi producer jutaan motor besar di dunia,” ucap Julfi Hadi.
Baca Juga
Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan, dalam kurun waktu 10 tahun investasi pada sektor panas bumi mencapai US$ 9,3 miliar. Adapun untuk pendapatan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor panas bumi pada 2024 sebesar Rp 18,2 triliun.
“Nah ini cukup luar biasa, panas bumi menyumbang PNBP, jadi bukan hanya minerba dan migas saja yang menyumbang PNBP, tetapi panas bumi di lingkup EBTKE itu menyumbang cukup banyak juga walaupun tidak sebesar yang minerba dan migas,” sebut Eniya.

