Imbas Tarif Trump, Apple Pilih India Gantikan China untuk Produksi iPhone?
NEW DELHI, investortrust.id - Apple dilaporkan menaikkan jumlah pengiriman iPhone dari India ke Amerika Serikat (AS) setelah Presiden Donald Trump menerapkan tarif baru yang agresif terhadap produk-produk asal China. Diperkirakan 10 penerbangan berisi iPhone dengan total berat 600 ton telah berangkat dari Chennai, India, dalam beberapa hari terakhir.
Langkah ini diambil setelah Apple gagal mendapatkan pengecualian dari tarif sebesar 104% yang mulai berlaku sejak Rabu. “Apple jelas mempertimbangkan untuk melakukan lebih banyak hal di India,” ujar salah satu pejabat India yang enggan disebutkan namanya.
Baca Juga
Jelang Penerapan Tarif Trump, Apple Kirim Stok iPhone Besar-Besaran ke AS
Apple menjadi salah satu perusahaan yang paling terdampak oleh kebijakan tarif Trump, dengan nilai pasar yang anjlok sekitar US$ 700 miliar sejak pengumuman tersebut. Hal ini menunjukkan betapa besar ketergantungan Apple terhadap manufaktur canggih di China.
Menurut analis Bank of America, Wamsi Mohan, jika seluruh output iPhone dari India dialihkan ke AS, maka Apple bisa menutupi sekitar 30 juta dari kebutuhan 50 juta unit iPhone di pasar AS setiap tahun. Namun, ia menegaskan bahwa solusi ini tidak berkelanjutan dalam jangka panjang.
Dikutip dari Financial Times, Jumat (11/4/2025), Apple memang telah memperluas produksi di India sejak pandemi COVID-19, namun hingga kini sekitar 80% manufaktur iPhone masih berada di China. Di sisi lain, India belum memiliki rantai pasok yang kuat untuk menopang peningkatan produksi secara besar-besaran.
Baca Juga
Trump Tunda 90 Hari Pemberlakuan Tarif Baru, Ancam Tarif 125% untuk China
Sejak tarif baru diberlakukan, muncul spekulasi bahwa India akan menjadi alternatif utama bagi Apple untuk menggantikan China. Sementara itu, India tengah bernegosiasi dengan AS untuk menurunkan beban tarif yang dikenakan.
Trump sendiri mengumumkan jeda pemberlakuan tarif tambahan bagi negara-negara yang bersedia bernegosiasi, termasuk India. Meski demikian, ekspor mereka tetap dikenai tarif sebesar 10%, memberi peluang bagi India untuk mendapatkan keuntungan dari kebijakan baru AS.
Meski kini mengandalkan India, Apple tetap menghadapi tantangan besar jika ingin mengurangi ketergantungan pada China. Perusahaan harus memilih antara menaikkan harga produk atau menyerap beban biaya tambahan akibat tarif.
Baca Juga
Di Tengah Ketidakpastian, Danareksa Sekuritas Sarankan Investor Pegang 5 Saham Ini
Beberapa analis memperkirakan bahwa Apple baru akan menaikkan harga iPhone menjelang peluncuran model baru pada bulan September. Dampak dari tarif ini juga kemungkinan akan dirasakan oleh konsumen global, bukan hanya di AS.
Apple juga diperkirakan menekan pemasoknya untuk menanggung sebagian beban tarif, menurut sejumlah analis. Namun, tantangan yang lebih besar datang dari desakan Trump agar Apple mulai memproduksi iPhone di dalam negeri. “Akan butuh waktu tiga tahun dan biaya US$ 30 miliar hanya untuk memindahkan 10% rantai pasok dari Asia ke AS,” kata analis Wedbush, Dan Ives.
Meski secara teknis memungkinkan, produksi iPhone di AS dianggap tidak realistis. Pasalnya AS tetap bergantung pada komponen dari negara Asia yang dikenai tarif. (C-13)

