Harga iPhone Bisa Naik 3 Kali Lipat Tembus Rp 59 Jutaan jika Diproduksi di AS
WASHINGTON, investortrust.id - Harga iPhone diprediksi melonjak tiga kali lipat hingga menjadi US$ 3.500 sekitar Rp 59 jutaan jika diproduksi di Amerika Serikat (AS). Hal ini merespons rencana Presiden AS Donald Trump yang menginginkan Apple memproduksi iPhone di Negeri Paman Sam.
Kepala Riset Teknologi Global Wedbush Securities Dan Ives menyebut, gagasan memproduksi iPhone di AS sebagai mimpi belaka. Ia menegaskan bahwa meniru sistem produksi kompleks, seperti di Asia sangat mahal dan sulit dilakukan di AS.
Dikutip dari CNN, Rabu (9/4/2025), Ives menjelaskan bahwa membuat rantai pasokan di negara bagian, seperti West Virginia dan New Jersey memerlukan pabrik fabrikasi canggih. Akibatnya, harga iPhone bisa tembus US$ 3.500 per unit.
Baca Juga
Jelang Penerapan Tarif Trump, Apple Kirim Stok iPhone Besar-Besaran ke AS
Ia juga menambahkan bahwa Apple harus mengeluarkan sekitar US$ 30 miliar dan butuh waktu 3 tahun hanya untuk memindahkan 10% rantai pasok ke AS.
Pembuatan dan perakitan komponen smartphone sudah lama beralih ke Asia karena efisiensi dan margin lebih tinggi. Strategi ini menjadikan Apple sebagai salah satu perusahaan paling bernilai di dunia.
Sejak Trump menjabat pada 20 Januari 2025 lalu, saham Apple anjlok 25% akibat kekhawatiran dampak tarif pada rantai pasok mereka yang bergantung pada China dan Taiwan. Pasalnya, sekitar 90% iPhone saat ini dirakit di China.
Komponen penting iPhone, seperti cip, sebagian besar diproduksi di Taiwan. Sementara layar berasal dari perusahaan Korea Selatan. Perakitan akhir juga dilakukan di China, yang menjadi pusat produksi utama Apple.
Baca Juga
Apple berjanji akan menginvestasikan US$ 500 miliar di AS dalam 4 tahun ke depan untuk memperluas produksi di luar China. Langkah ini diambil demi menghindari dampak langsung tarif Trump terhadap produk mereka.
Analis sepakat bahwa harga iPhone akan tetap naik meski rantai pasok tak berubah. Menurut Rosenblatt Securities, harga bisa naik 43% jika Apple membebankan seluruh biaya tarif ke konsumen.
Neil Shah dari Counterpoint Research memperkirakan, kenaikan harga bisa mencapai 30%, tergantung lokasi produksi. India dan Brasil mungkin menjadi alternatif, tteapi keduanya dianggap belum mampu menggantikan kapasitas produksi China. (C-13)

