Gegara Hal Ini, PHK Massal Mengintai Industri Perhotelan Nasional
JAKARTA, investortrust.id– Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) memperkirakan pemutusan hubungan kerja (PHK) mengintai pekerja sektor perhotelan. Hal ini dipicu penghematan atau efisiensi anggaran pemerintah yang berdampak terhadap penurunan drastis tingkat pemesanan kamar dan MICE hotel di Indonesia.
Berdasarkan survey PHRI, sebanyak 88% responden pengusaha hotel menyebutkan peluang melakukan PHK massal, apabila kebijakan efisiensi yang diterapkan pemerintah tidak dievaluasi atau dilakukan penyesuaian selama 6 bulan ke depan.
Baca Juga
Okupansi Hotel Melambat 30% hingga Kini , Bagaimana Permintaan Saat Lebaran?
Banyak hotel mulai menurunkan tarif kamar untuk mempertahankan tingkat hunian, namun strategi ini berisiko menciptakan ketidakstabilan pasar dalam jangka panjang. Industri perhotelan memperingatkan bahwa tanpa penyesuaian kebijakan pemerintah, PHK pekerja hotel bakal direalisasikan dalam jangka panjang.
“Pokoknya kalau pemerintah tida mengevaluasi, para pengusaha hotel pasti akan melakukan pengurangan karyawan secara signifikan untuk bertahan hidup,” ucap Ketua Umum PHRI Hariyadi Sukamdani saat konferensi pers di Jakarta, Sabtu (22/3/2025).
Guna menghadapi penurunan permintaan tersebut, dia mengatakan, para pelaku industri perhotelan meminta pemerintah untuk memberikan insentif pajak, bantuan finansial, serta meningkatkan promosi pariwisata. Jika tidak dilakukan sebuah penyesuaian atau kebijakan, kinerja sektor perhotelan dinilai akan memburuk.
Baca Juga
Efisiensi Anggaran Pemerintah Tekan Pendapatan Industri Hotel 40% Ytd
Lebih lanjut, dia mengatakan pariwisata perlu mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah agar tetap bertahan di tengah tantangan ini. PHRI berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata guna memastikan keberlanjutan industri ini dalam jangka panjang.
“Kami membutuhkan intervensi pemerintah yang cepat dan tepat untuk mencegah kerusakan permanen pada sektor ini,” tegasnya.

