Implementasi Program B50, Pabrik Metanol di Bojonegoro Ditarget Rampung Akhir 2027
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan saat ini pemerintah tengah berupaya mendorong implementasi biodiesel dengan persentase 50% solar dan 50% minyak nabati yang berasal dari minyak sawit atau B50.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyebut, implementasi B50 tersebut ditargetkan berjalan mulai tahun 2026. Namun, yang masih menjadi persoalan adalah ketersediaan metanol dalam negeri yang masih relatif terbatas.
“Jadi, dari kebutuhan sekitar 2,3 juta (ton), yang kita baru produksi dalam negeri sekitar 300.000 (ton). Berarti 2 juta kita masih impor,” kata Yuliot Tanjung di Sekretariat Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (14/3/2025).
Sebagai informasi, metanol merupakan salah satu bahan utama yang digunakan dalam proses transesterifikasi pembuatan Fatty Acids Methyl Ester (FAME) yang menjadi bahan baku biodiesel.
Baca Juga
Untuk bisa mendapatkan metanol yang mencukupi, kata Yuliot, pemerintah sedang mendorong pembangunan pabrik metanol senilai US$ 1 miliar-US$ 1,2 miliar yang terletak di Bojonegoro. Pabrik ini sendiri merupakan salah satu proyek strategis nasional (PSN) demi tercapainya swasembada energi.
“Jadi, kita lagi mendorong ini PSN bioetanol yang ada di Bojonegoro. Itu juga lagi kita kejar. Jadi, sehingga itu nanti tetap ada substitusi impor. Tapi, kita sudah bisa mengurangi untuk impor,” terang dia.
Kendati demikian, Yuliot menejelaskan bahwa proses pembangunan industri ini akan memerlukan waktu. Namun, dia berharap dengan adanya percepatan, pembangunan pabrik metanol di Bojonegoro tersebut bisa rampung pada akhir tahun 2027.
“Kita mengharapkan akhir 2027 itu bisa diselesaikan industri metanol di Bojonegoro. Nanti, metanolnya berbasis gas,” ujar Yuliot.
Baca Juga
B40 Sudah Jalan, Pemerintah Targetkan Implementasi B50 di 2026

