Kanada Genjot Investasi pada Sektor Digitalisasi dan Industri Hijau di Indonesia Serta ASEAN
JAKARTA, investortrust.id - Kawasan Asia Tenggara semakin menjadi tujuan utama investasi global, termasuk bagi Kanada yang melihat potensi besar di Indonesia dan ASEAN. Dengan Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) antara Indonesia dan Kanada yang telah disepakati Desember lalu diyakini akan membuka peluang baru bagi investasi di sektor digital serta industri hijau.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Bidang Luar Negeri, Benardino M. Vega menekankan perjanjian ini akan mempercepat masuknya investasi Kanada dalam berbagai sektor strategis. Ia menyebut Kanada memiliki teknologi dan kapasitas besar dalam transisi energi, khususnya dalam Small Modular Reactors (SMR), tenaga surya, dan LNG.
"Teknologi ini sangat relevan dengan kebutuhan Indonesia dalam mengembangkan energi terbarukan," ujar Dino dalam pertemuannya dengan President of Canada ASEAN Business Council, Wayne Farmer, di Jakarta, Jumat (7/3/2025).
Selain energi, sektor digital juga menjadi prioritas. Kanada menunjukkan minat besar untuk berinvestasi dalam infrastruktur digital, termasuk dalam pengembangan artificial intelligence (AI) dan transformasi ekonomi berbasis teknologi di Indonesia.
"Digitalisasi menjadi elemen kunci dalam pertumbuhan ekonomi. Dengan dukungan Kanada, kita bisa mempercepat pengembangan ekosistem digital yang inklusif dan inovatif," tambah Dino.
Baca Juga
RI-Kanada Perkuat Kerja Sama Ekonomi: Fokus pada Energi Terbarukan dan Ketahanan Pangan
Dalam skala regional, Kanada juga tengah merampungkan perjanjian perdagangan bebas dengan ASEAN, yang diharapkan mempererat hubungan ekonomi. Dino menjelaskan bahwa kerja sama Kanada dengan ASEAN lebih bersifat multilateral dan mencakup berbagai program lintas negara, seperti transisi energi bersama dan digitalisasi.
"Bedanya dengan Indonesia, pendekatan Kanada lebih spesifik. Di Indonesia, fokus utama adalah investasi di sektor sumber daya mineral, carbon sequestration, serta proyek-proyek strategis lainnya yang sesuai dengan keunggulan kita," jelasnya.
Ia menyebut bahwa Indonesia yang memiliki dua dari empat hutan tropis terbesar di dunia dapat menjadi lokasi strategis untuk proyek karbon dan keberlanjutan lingkungan yang didukung oleh teknologi Kanada.
Pada kesempatan yang sama, Farmer menyebut bahwa ketertarikan Kanada terhadap Indonesia tidak hanya terbatas pada sektor energi dan digital, tetapi juga pada ketahanan pangan dan industri berbasis sumber daya alam.
"Kami melihat Indonesia sebagai mitra penting dalam rantai pasok global, khususnya dalam sektor pangan dan energi. Beberapa perusahaan Indonesia juga telah berinvestasi di Kanada dalam bidang LNG, minyak, serta kertas," ujar Farmer.
Ia menambahkan bahwa penyelesaian FTA dengan ASEAN yang ditargetkan rampung akhir tahun ini akan semakin mempercepat arus investasi dan perdagangan antara Kanada dan kawasan Asia Tenggara.
"Kami ingin menjadi mitra dagang yang saling menguntungkan dan terus membangun hubungan jangka panjang dengan Indonesia serta ASEAN," tutupnya.
Dengan semakin eratnya kerja sama ekonomi ini, Indonesia pun disebut berpeluang menjadi hub utama bagi ekspansi bisnis Kanada di kawasan ASEAN, serta mendorong pertumbuhan industri digital dan energi hijau di Tanah Air. (C-13)

