Setelah Danantara Lahir, Erick Thohir Akan Tentukan Nasib INA
JAKARTA, investortrust.id - Menteri BUMN Erick Thohir menjelaskan posisi Indonesia Investment Authority (INA) setelah kelahiran Danantara. INA adalah salah satu sovereign wealth fund (SWF) yang dimiliki Indonesia dan berdiri pada 2020.
Sebagai salah satu pengawas di INA bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Erick menjelaskan ada fakta bahwa beberapa negara memang memiliki lebih dari satu korporasi investasi. Dia menyontohkan China yang memiliki Silk Road Fund dan China Investment Corporation (CIC).
“Nah, tinggal nanti kita dudukkan saja seperti apa,” ujar Erick di CNBC Indonesia Economic Outlook 2025, di Jakarta, Rabu (26/2/2025).
Erick menjelaskan kelahiran Danantara bertujuan untuk mengelola dana yang super besar. Danantara akan mengelola investasi sebesar US$ 20 miliar atau setara Rp 327,4 triliun, (US$1 setara Rp 16.370) dengan total asset under management (AUM) mencapai US$ 900 miliar atau setara US$ 14.733 triliun. Sementara itu, berdasarkan data pada 2024, INA memiliki suntikan modal Rp 75 triliun dengan AUM sebesar Rp 163 triliun.
“Saya rasa ini memang yang membedakan ukurannya antara Danantara dan INA,” kata dia.
Meski secara ukuran, INA dan Danantara memiliki perbedaan, Erick percaya niat kedua SWF ini sama, yaitu menarik investasi untuk Indonesia. Sebab, investasi akan menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi penting selain konsumsi.
Baca Juga
Prabowo Sebut Dana Efisiensi Rp 300 Triliun Digunakan Investasi Danantara
Erick menjelaskan keberadaan Danantara untuk mengoptimalisasi hilirisasi dan percepatan pada sektor-sektor lain yang datanya dimiliki Kementerian BUMN.
“Kita melihat banyak kesempatan yang sebenarnya bisa dimaksimalkan untuk hilirisasi,” ucap dia.
Dalam kesempatan yang sama Erick juga mengaku terkejut dengan salah satu potensi hilirisasi getah pinus. Ide hilirisasi getah pinus tersebut muncul dari Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
“Kalau kita kelola dengan baik, itu menjadi bahan baku buat berbagai produk termasuk kosmetik,” ujar dia.
Sementara itu, CEO Danantara Rosan Roeslani menyebut INA telah berjalan dengan baik. INA disebut telah memiliki tim yang mumpuni sehingga dapat menjadi pelengkap Danantara.
Seperti pernyataan Erick, menurut Rosan, munculnya dua SWF memang terjadi di beberapa negara. Singapura misalnya, memiliki Government of Singapore Investment Corporation (GIC Pvt Ltd) dan Temasek Holdings.
“Jadi menurut kami, ini (INA dan Danantara) bisa berjalan bersama-sama,” kata Rosan.

