Badak LNG Raih Proper Emas Ke-14 Kalinya dan Green Leadership
JAKARTA, investortrust.id - Badak LNG, anak perusahaan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai subholding upstream Pertamina meraih Proper Emas 2024 dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), menjadikannya pencapaian ke-14 secara berturut-turut sejak 2011.
Tidak hanya itu, President Director & CEO Badak LNG Achmad Khoiruddin juga dianugerahi penghargaan Green Leadership yang diberikan kepada pemimpin perusahaan yang menunjukkan kepemimpinan kuat dalam mengimplementasi inovasi lingkungan berkelanjutan. Penghargaan tersebut diserahkan oleh Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq di Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Senin (24/2/2025).
Baca Juga
“Ini bukti keseriusan perusahaan dalam rangka melakukan pengembangan atas masyarakat sekitar dan mengoptimalkan limbah yang dihasilkan untuk dimanfaatkan kembali,” ungkap Achmad Khoiruddin dalam keterangannya, Rabu (26/2/2025).
Proper Emas merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan kepada perusahaan atas kinerja pengelolaan lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat melebihi yang telah disyaratkan.
Pada 2024, Badak LNG mengoptimalkan efisiensi energi di kilang yang berdampak pada penurunan konsumsi energi sebesar 218.207 giga joule, pengurangan penggunaan air sebanyak 5.198 m3, dan penekanan emisi hingga 4.207 ton CO2 eq.
Di sektor sosial dan lingkungan, Badak LNG meluncurkan Jaka Samudra (jaringan kawasan sistem pelampung akuakultur modern ramah lingkungan). Program ini berupa bagan apung modern yang dirancang sebagai solusi bagi masyarakat pesisir, khususnya para nelayan di kampung Tihi-Tihi agar dapat mencari nafkah meski kondisi cuaca tidak bersahabat.
Baca Juga
Pertamina Raih Penghargaan Proper Kementerian Lingkungan Hidup
Program Jaka Samudra memanfaatkan limbah non-B3, yaitu pipa fiber-reinforced polymer (FRP) dan polyurethane untuk digunakan sebagai bahan pelampung bagan apung. Penggunaan limbah non-B3 tersebut dapat membuat pelampung bertahan hingga 40 tahun dibandingkan pelampung konvensional. Bagan apung modern ini juga dilengkapi dengan sensor pintar untuk mendeteksi kebocoran, kemiringan struktur, serta menggunakan panel surya sebagai sumber energi.
Warga kampung Tihi-Tihi kini mampu mengembangkan restoran apung dan wisata bahari yang mampu meningkatkan hasil pemasukan, berupa kenaikan hasil tangkap ikan menjadi Rp 9 juta per bulan, dan pendapatan restoran mencapai Rp 119 juta. Dari sisi lingkungan, inovasi tersebut juga menekan emisi gas rumah kaca, termasuk pengurangan 0,26 ton CO2eq per tahun dari pemanfaatan limbah FRP.

