Cetak Talenta Digital, Kemenkomdigi Beri Pelatihan Coding untuk Siswa SD
YOGYAKARTA, investortrust.id - Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) meningkatkan keterampilan digital generasi muda dengan memberi pelatihan pemrograman atau coding sejak dini. Program ini menyasar siswa sekolah dasar (SD) untuk membekali mereka dengan dasar-dasar coding secara visual.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menekankan pentingnya pelatihan ini agar anak-anak memiliki kemampuan teknologi sejak usia dini.
"Sasarannya dari kelas 5 SD, coding itu diperkenalkan karena ini juga persiapan buat mereka. Sejak usia sekolah dasar, mereka sudah mendapatkan dasar-dasar pelatihan coding. Nanti di kelas 6, mereka bisa belajar lagi," jelas Nezar di kantor Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemenkomdigi, Yogyakarta dikutip dalam keterangan tertulisnya, Kamis (20/2/2025).
Baca Juga
Transformasi Digital di Indonesia Bisa Melesat, Ini Tantangan dan Peluangnya!
Setelah masuk SMP, kata dia, diharapkan kemampuan mereka untuk menyerap dan mempraktikkan coding sudah jauh lebih baik. Menurutnya, pelatihan sejak usia dini akan memperkaya pilihan pendidikan bagi para pelajar, baik yang ingin melanjutkan ke SMA, SMK, maupun perguruan tinggi.
"Di tingkat SMP ini juga penting sebagai persiapan ke SMA. Di SMA nanti ada banyak pilihan, apakah mereka ingin ke universitas, atau menajamkan keterampilan digital mereka. Ini kita bekali sejak dini, sehingga nantinya bermanfaat bagi mereka," ungkapnya.
Baca Juga
PGN Permudah Bayar Tagihan Jargas Lewat Kanal Digital dan Ritel
Sebagai bagian inisiatif ini, BPSDM Kemenkomdigi menyiapkan platform khusus berbasis learning management system (LMS) serta aplikasi Scratch. Aplikasi ini memungkinkan siswa belajar coding secara visual dengan cara lebih mudah dipahami. Sebanyak 50 siswa kelas 5 SD Negeri Pangukan, Sleman, telah menggunakan platform ini sebagai bagian dari program percontohan.
Di sisi lain, pemerintah berkomitmen meningkatkan keterampilan digital masyarakat agar sejalan dengan perkembangan teknologi yang semakin cepat dan dinamis. Ketimpangan digital atau digital divide di Indonesia masih menjadi tantangan yang perlu diatasi dengan langkah strategis. "Hal ini juga diidentifikasi oleh UNESCO dalam surveinya terkait kesiapan Indonesia mengadopsi teknologi terbaru, terutama artificial intelligence (AI)," jelas Wamenkomdigi.
Menurut Nezar, berdasarkan hasil Readiness Assessment Methodology Artificial Intelligence (RAM AI) UNESCO, ada tiga faktor utama yang perlu ditindaklanjuti agar Indonesia siap menghadapi era AI yakni, kesenjangan digital, infrastruktur digital, kemudian riset dan pengembangan AI. (C-13)

