Intip Strategi Toyota Indonesia Menuju Netralitas Karbon di Semua Lini Bisnis
JAKARTA, investortrust.id - Selama berdiri di Indonesia selama hampir 54 tahun, Toyota Indonesia sebagai produsen mobil telah menghasilkan emisi. Menyadari hal tersebut, Toyota mulai melakukan langkah dekarbonisasi, yang sejalan dengan target pemerintah mencapai Net Zero Emission (NZE) 2060.
Manufacturing and Production Engineering Director PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Arif Mustofa mengatakan, Toyota sendiri telah merespon target ini dengan membuat sasaran menuju netralitas karbon pada 2050 di seluruh lini bisnis.
Baca Juga
Beyond Zero Jadi Komitmen Toyota Indonesia Wujudkan Ekosistem Hijau
"Kita tidak hanya mau ngomong listrik saja, tapi kita multi pathway. Kita mobil ICE-nya yang kita efisienkan. Kemudian kita punya mobil hybrid, ada lagi plug-in hybrid, ada lagi mobil fuel cell, salah satunya Toyota Mirai," ucapnya di acara Toyota Beyond Zero: Mobilitas untuk Netralitas Karbon, di Gambir Expo, Jakarta, Sabtu (15/2/2025).
Selain produk, rantai pasok Toyota Indonesia yang melibatkan lebih dari 200 supplier juga mulai secara perlahan menerapkan pengurangan karbon. Selanjutnya, proses manufakturing Toyota juga sudah menerapkan konsep green manufacturing.
Pada 2015, Toyota Global juga telah membuat Toyota Environmental Challenge yang berisi komitmen terhadap zero carbon emission dengan memproduksi green product, green supply chains, operation dan green factory.
Baca Juga
Menperin Bocorkan Pabrikan yang Bakal Garap Mobil Nasional, Ada Polytron hingga Maung
Kemudian, Toyota juga menciptakan net positive environmental impact dengan optimalisasi penggunaan air, pengurangan limbah dan sustainable business yang selaras dengan alam.
"Secara operasional manufakturing, kami sudah bergabung dalam green industry dari tahun 2019 dan alhamdulillah di tahun 2021 kami telah mencapai green industry level 5. Jadi katanya level 5 itu level tertinggi," terang Arif.
Tak ingin berhenti disitu, saat ini Toyota terus melanjutkan netralitas karbon manufaktur dengan menerapkan pabrik yang rendah emisi. Pada proses manufaktur itu, Toyota menerapkan high efficiency proses, memakai low carbon teknologi dan yang terakhir menggunakan renewable energy.
"Mulai dari proses pembuatan mobil, kemudian transportasinya, bahkan hingga setelah mobil itu selesai dipakai customer. Kita juga pikirkan bagaimana tidak mencemari lingkungan. Makanya kita ada program yang namanya 3R, yaitu reduce, reuse dan recycle," paparnY.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat Industri Hijau BSKJI Kementerian Perindustrian Apit Pria Nugraha, menyebutkan guna mendukung langkah perusahaan mencapai netralitas karbon, pemerintah menyiapkan berbagai insentif.
"Untuk insentif fiskal kami berdiskusi dengan Kementerian Keuangan, bagaimana supaya industri yang sudah berkontribusi menurunkan emisi, kontribusinya bisa dijadikan sebagai dasar misalnya untuk diskon PPN," ungkap Apit.
Lebih lanjut, Apit menjelaskan untuk memutuskan terkait adanya kebijakan insentif bukan hal yang mudah untuk dirumuskan. Menurutnya, kebijakan seperti itu tidak bisa dilakukan satu kebijakan untuk segala jenis industri.
"Segala jenis produk ternyata harus di breakdown lagi. Proses ini secara kebijakan agak cukup lama. Akhirnya praktiknya adalah untuk masing-masing jenis industri punya kebijakan sendiri-sendiri nantinya," jelas Apit.
Contohnya di otomotif, insentif yang sudah berlaku sekarang ada program LCEV, dimana pabrikan mobil mulai melakukan hilirisasi dengan perakitan lokal dan menggunakan teknologi ramah lingkungan.
Apit menyebut, kebijakan bukan hanya restriktif (menekan), seperti jika kebijakan pembatasan emisi secara langsung, dimana konsekuensinya perusahaan harus mengeluarkan dana.
"Keluar duit buat apa? Untuk verifikasi, untuk implementasi teknologi datacarbon.
Kami nggak cuma mengeluarkan kebijakan yang sifatnya restriktif, kami juga mengeluarkan kebijakan yang sifatnya fasilitatif. Nanti untuk verifikasi, untuk implementasi teknologi datacarbon, uangnya kita cariin pakai green loan. Yang menarik konsep green loan itu harus dibalikin, namanya juga minjem gitu ya," kata Apit.

