Tools of Humanity Terbuka Jadikan World sebagai Protokol Berantas Buzzer
JAKARTA, investortrust.id - Tools for Humanity (TFH) memperkenalkan teknologi World ID untuk mematahkan teknologi deepfake yang berujung pada penipuan identitas, pembuatan akun ganda, hingga buzzer. Mereka siap menjadi protokol bagi semua stakeholder di Indonesia.
TFH yang fokus pada artificial intelligence (AI), merupakan perusahaan teknologi global yang didirikan Sam Altman dan Alex Blania pada 2019. Sementara kehadiran World ID pun disambut baik mengingat teknologi ini memungkinkan seseorang bisa membuktikan bahwa mereka adalah manusia asli tanpa perlu membagikan data pribadi. Proses verifikasinya melibatkan scanning iris mata, karena iris merupakan salah satu bagian tubuh manusia yang memiliki keunikan tinggi dan tidak berubah seiring waktu.
Baca Juga
Kemkomdigi akan Sanksi Platform yang Biarkan Anak-anak Bikin Akun Medsos
Dalam sesi tanya jawab yang dihadiri investortrust.id dan media lainnya, TFH mengaku bahwa World ID bisa digunakan oleh siapa saja, termasuk untuk mengurangi akun palsu atau bot yang biasa digunakan untuk calo tiket konser, penipuan di dunia maya, hingga buzzer.
"Semua ini sifatnya protokol dan open-source, hari ini, siapa pun. Entah perusahaan media sosial besar atau kecil, semua bisa mengintegrasikan (World ID)," kata General Manager Tools for Humanity for Indonesia Wafa Taftazani di Jakarta, Selasa (11/2/2025).
Terkait peluang kerja sama dengan lembaga atau instansi terkait, TFH menyebut, semuanya sangat mungkin terjadi. Namun, perusahaan asal AS itu mengaku layanannya merupakan protokol yang bisa dikembangkan sendiri. "Jadi kami sifatnya bukan harus datang satu-satu ajak kerja sama, tetapi kami membuka ini dalam bentuk protokol yang bisa mereka kembangkan sendiri," tegas Wafa.
Baca Juga
Terhubung Judi Online, 3 Akun Instagram dengan Follower Puluhan Ribu Ditutup Kemenkomdigi
Di akhir diskusi, Wafa menekankan bahwa kehadiran sistem World ID lebih pada membangun kesadaran dengan semakin meningkatnya ancaman AI di dunia digital, terutama penyalahgunaan data pribadi.
"Perlu diingat, World adalah protokol yang cara kerjanya berbeda dengan perusahaan teknologi lainnya. Mereka pasti meminta data user dan harus ada izin yang disetujui untuk berbagi di pihak ketiga, tetapi World tidak ada proses seperti itu," tegasnya. (C-13)

