Pemerintah Perlu Pacu Pertumbuhan Kredit 'Double Digit" agar Ekonomi Terkerek
JAKARTA, investortrust.id - Peneliti Center Makroekonomi dan Keuangan dari Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Abdul Manap Pulungan menyatakan pentingnya dorongan pemerintah terhadap pertumbuhan kredit perbankan sebagai upaya mempercepat pertumbuhan ekonomi.
“Yang harus dipacu pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka adalah kreditnya harus tumbuh signifikan, harus bisa tumbuh dua digit agar pertumbuhan ekonomi bisa naik,” ujarnya, dalam diskusi publik berjudul "100 Hari Asta Cita Ekonomi, Memuaskan?" yang digelar Indef secara daring, Rabu (29/1/2025).
Baca Juga
Indef: Kebijakan Ekonomi Perlu Diperkuat untuk Optimalkan Pertumbuhan Berkelanjutan
Abdul mengatakan, kunjungan Prabowo ke beberapa negara belum lama ini diharapkan bisa meningkatkan investasi yang pada akhirnya memacu kenaikan kredit dan pertumbuhan ekonomi ke depan.
“Kalau tanpa itu, target pertumbuhan ekonomi 5,2% itu agak sulit. Kalau 5,2%-nya gagal berarti starting point untuk mencapai (pertumbuhan ekonomi) 8% pada 2029 itu agak susah dicapai,” katanya.
Menurutnya, hingga akhir 2024 simpanan perorangan di perbankan mengalami penurunan sebesar 2,8%. Hal ini mencerminkan masyarakat terpaksa menarik tabungannya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi mereka sehari-hari.
Baca Juga
Prabowo dan PM Modi Sepakat Perkuat Kerja Sama RI-India di Bidang Ekonomi hingga Pertahanan
Pertumbuhan simpanan perorangan pada tahun lalu mengalami penurunan tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dengan pertumbuhan positif. Pada 2005 misalnya, simpanan perseorangan tumbuh 36%, lalu pada 2009 naik 8%, pada 2014 tumbuh 13%, dan 2019 meningkat 7%.
Sementara dari sisi kredit, dikatakan Abdul, pertumbuhan kredit perorangan juga tercatat melambat atau hanya tumbuh 2,9%. “Artinya, kelompok perseorangan ini tidak lagi menikmati atau menggunakan akses dari perbankan untuk melakukan aktivitasnya, baik konsumsi maupun investasi,” ucap dia.

