Pembelian Minyak Jelantah oleh Pertamina Didorong Libatkan UMKM dan Komunitas
JAKARTA, Investortrust.id - Anggota Komisi VI DPR Amin Ak mendukung program pembelian used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah oleh PT Pertamina sebagai raw material bahan bakar pesawat berkelanjutan (sustainable aviation fuel/SAF). Amin mengusulkan agar Pertamina melibatkan komunitas masyarakat dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam pengumpulan minyak jelantah.
"Pertamina dapat menjalin kerja sama dengan komunitas lokal dan UMKM untuk menjadi mitra strategis dalam mengumpulkan minyak jelantah dari masyarakat. Langkah ini akan memperluas jangkauan program sekaligus memberdayakan masyarakat secara ekonomi," kata Amin dalam keterangannya dikutip, Rabu (22/1/2025).
Baca Juga
Pertamina Libatkan Masyarakat Kumpulkan Minyak Jelantah untuk Bahan Bakar Pesawat Berkelanjutan
Menurutnya, kolaborasi dengan komunitas dan UMKM akan menciptakan ekosistem lebih inklusif dalam pengelolaan minyak jelantah. Dengan melibatkan berbagai pihak, program ini tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi memberdayakan ekonomi lokal. "Program ini tidak hanya mendukung transisi energi menuju masa depan lebih hijau, tetapi membawa manfaat bagi masyarakat," ujarnya.
Amin menjelaskan, konsumsi minyak goreng di Indonesia diperkirakan mencapai 16 juta ton per tahun, yang sebagian besar digunakan rumah tangga, restoran, dan industri makanan. Dari setiap 1 liter minyak jelantah, sekitar 0,8–0,9 liter biodiesel dapat dihasilkan. Jika hanya 30% dari konsumsi minyak goreng nasional dikumpulkan dan diolah menjadi biodiesel atau bioavtur, potensi produksinya dapat mencapai 4,8 juta kiloliter per tahun. "Angka ini setara 37% kebutuhan biodiesel, kontribusi yang signifikan untuk mendukung kebutuhan energi terbarukan, khususnya di sektor transportasi," ungkap Amin.
Baca Juga
Asyiik...! Minyak Jelantah Bisa Ditukar dengan Uang, Cek Lokasinya
Dari sisi kesehatan, program tersebut juga memberikan dampak positif bagi masyarakat. Penggunaan minyak jelantah berulang dapat menghasilkan senyawa berbahaya, seperti radikal bebas dan akrolein, yang membahayakan kesehatan. "Adanya insentif ekonomi untuk menjual minyak jelantah mendorong masyarakat untuk tidak menggunakan minyak goreng bekas secara berulang," katanya.
Selain itu, program ini juga diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya penggunaan minyak jelantah berulang dalam makanan.
Dengan akses yang lebih mudah untuk mendaur ulang minyak bekas menjadi biofuel, masyarakat akan lebih terdorong menggunakan minyak baru untuk memasak. (C-14)

