Kepala KSP Akui Indonesia Tertinggal dalam Pengembangan Mobil Listrik
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko mengakui pengembangan mobil listrik di Indonesia masih tertinggal. Ini ditandai dengan masih sulitnya Indonesia mengupayakan tiga komponen utama yaitu baterai, dinamo, dan kontroler.
“Tiga-tiganya itu kita masih impor. Itu persoalannya,” kata Moeldoko saat memberi kuliah umum di Universitas Tarumanegara (Untar), Jakarta, Selasa (19/3/2024).
Moeldoko mengatakan saat ini Indonesia perlu bersaing dengan China, Korea Selatan, dan Eropa yang menguasai industri baterai kendaraan listrik. Padahal, kata dia, sesungguhnya Indonesia punya bahan mentah untuk menuju baterai lithium.
Baca Juga
Multifinance Sulit Menyalurkan Pembiayaan Mobil Listrik, Ternyata Ini Penyebabnya
“Secara teknologi kita sangat jauh tertinggal, kita harus mengejarnya,” kata dia.
Moeldoko mengatakan pada 2015 telah mengembangkan perusahaan bus listrik dengan nama Mobil Anak Bangsa (MAB). Dia mengatakan sebagai lulusan tentara dengan modal seadanya, dia menantang perguruan tinggi untuk turut mengembangkan ekosistem kendaraan listrik.
“Kenapa dunia perguruan tinggi tidak bisa, ini sebuah tantangan,” kata dia.
Baca Juga
PLN bakal Bangun 1.000 SPKLU, Mudik dengan Mobil Listrik Dipastikan Aman
Rektor Untar, Prof Agustinus Purna Irawan menyambut baik tantangan dari Moeldoko untuk pengembangan kendaraan listrik. Dia mengatakan pengembangan mobil listrik di Indonesia perlu disertai riset yang memadai.
“Tentu ke depan pemerintah perlu memikirkan riset satu hal yang mendasar di banyak bidang. Tetapi sekali lagi ini membutuhkan goodwill dan kolaborasi antara dunia usaha dan dunia industri, dengan periset ini,” ujar Agustinus.
Agustinus berharap dunia akademis dapat berkontribusi terhadap industri kendaraan listrik. Dia mengatakan kajian di kampusnya ditemukan riset di berbagai bidang otomotif dan otomotif yang berhubungan dengan energi listrik.
Baca Juga
Aturan Baru! Mobil Listrik Impor Kini Bebas Pajak Barang Mewah
“Dengan kolaborasi dengan Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), kita bisa memberikan kesempatan mahasiswa belajar lebih banyak, tidak hanya di kampus tapi juga jaringan di Periklindo,” ujar dia.

