Honda dan Nissan Merger, Apa Dampaknya ke Industri Otomotif Indonesia?
JAKARTA, investortrust.id - Pengamat Otomotif Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia (UI) Riyanto mengungkapkan tidak ada dampak signifikan terhadap industri otomotif Indonesia setelah Honda dengan Nissan merger.
Pasalnya, menurut Riyanto, merger dua perusahaan otomotif raksasa tersebut tidak lantas membuat harga mobil yang diproduksi lebih murah. Dengan demikian tak berpengaruh besar terhadap pasar otomotif dalam negeri. “Kalau merger mungkin berharap terjadi penurunan harga mobil” ucap Riyanto saat ditemui di Kantor Kemenperin, Jakarta Selatan, Selasa (14/1/2025).
Baca Juga
Incar Posisi Terbesar Ke-3 Dunia, Honda dan Nissan Resmi Memulai Pembicaraan Merger
Lebih lanjut, Riyanto menilai, merger Honda dengan Nissan bertujuan efisiensi perusahaan, apalagi Nissan yang baru saja melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran, yakni sebanyak 9.000 orang karyawan.
Kendati demikian, Riyanto tidak merger Nissan dengan Honda bertujuan untuk bisa menandingi produk-produk mobil yang dikeluarkan oleh perusahaan asal China, seperti di antaranya BYD, Wuling, Chery.
“Segmennya beda, kalau Jepang masih konsentrasi pada produk hybrid atau Internal Combustion Engine (ICE). Sekarang produsen mobil asal Korea maupun China mulai ikut memasarkan hybird di Indonesia,” terangnya.
Sebelumnya, CEO Honda Toshihiro Mibe mengatakan, kedua perusahaan membutuhkan skala yang lebih besar untuk bersaing dalam pengembangan teknologi baru seperti kendaraan listrik (EV) dan sistem mengemudi cerdas.
Baca Juga
Integrasi bisnis tersebut, menurut Mibe, akan memberikan keunggulan yang tidak mungkin dicapai dengan kerangka kolaborasi saat ini. Kesepakatan ini bertujuan untuk berbagi sumber daya dan pengetahuan, menciptakan efisiensi skala, serta sinergi sambil tetap melindungi identitas merek masing-masing.
Sebuah perusahaan induk akan dibentuk sebagai entitas utama dari Honda dan Nissan, yang akan terdaftar di Bursa Efek Tokyo. Honda, yang lebih besar, akan menominasikan sebagian besar anggota dewan entitas gabungan tersebut. Kelompok yang bergabung ini berpotensi mencatat pendapatan sebesar 30 triliun yen ($191,4 miliar) dan laba operasi lebih dari 3 triliun yen.

