Dahsyatnya AI Hingga Ubah Pasar Tenaga Kerja Global pada 2030
JAKARTA, investortrust.id - World Economic Forum (WEF) menerbitkan laporan bertajuk Future of Jobs Report 2025. Dalam laporan tersebut, Managing Director WEF Saadia Zahidi menulis perubahan teknologi, seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), fragmentasi geoekonomi, ketidakpastian ekonomi, pergeseran demografi, dan transisi hijau, menjadi pendorong utama dalam mengubah tenaga kerja global pada 2030.
“Perluasan akses digital menjadi tren yang paling transformatif, dengan 60% pengusaha (global) mengharapkan perubahan bisnis pada 2030,” tulis Saadia, diakses, Senin (13/1/2025).
Baca Juga
Pasar Tenaga Kerja AS Diprediksi Melemah, Kripto Jatuh ke Zona Merah
Saadia mengatakan, laporan ini melibatkan 1.000 pengusaha global terkemuka. Mereka secara kolektif mewakili lebih dari 14 juta pekerja di 22 klaster industri. Selain itu, 55 ekonom dari seluruh dunia memeriksa tren makro yang memengaruhi pekerjaan dan keterampilan, serta transformasi tenaga kerja.
Perubahan pasar tenaga kerja akibat teknologi terjadi karena kebutuhan pengusaha terhadap AI dan pemrosesan informasi, robotika dan otomatisasi, pembangkit, penyimpanan, dan distribusi energi. Tren ini, kata Saadia, diharapkan memiliki dampak yang berbeda pada pekerjaan.
Selain perkembangan teknologi, para pengusaha juga mengantisipasi inflasi global pada 2030. Hal ini karena perlambatan ekonomi dapat menjadi perhatian utama dan diharapkan mengubah 42% kinerja bisnis.
Pengusaha juga menyoroti perubahan iklim. Tren transisi hijau diharapkan menjadi bagian transformasi bisnis 5 tahun mendatang. “Ini mendorong lebih banyak peran insinyur energi terbarukan, lingkungan, dan spesialis kendaraan listrik dan otomasi,” ujar dia.
Baca Juga
Sektor Pertanian Serap Banyak Tenaga Kerja, tapi Bagaimana Pendapatannya?
WEF menyatakan, penciptaan dan hilangnya lapangan kerja akibat transformasi pasar tenaga kerja struktural akan mencapai 22% dari total lapangan kerja saat ini.
Pekerjaan yang langsung berhubungan dengan obyek kerja, antara lain petani, pengemudi pengiriman, pekerja konstruksi, tenaga penjualan, dan pekerja pengolahan makanan, diprediksi akan terus tumbuh. Selain itu, selama 5 tahun ke depan, perawat, pekerjaan sosial, dan konselor profesional, dan asisten perawatan pribadi diproyeksikan tumbuh bersamaan meningkatnya peran guru di tingkat sekolah menengah dan perguruan tinggi.
Peran terkait teknologi merupakan pekerjaan tumbuh paling cepat dalam persentase, termasuk spesialis big data, insinyur fintech, spesialis AI dan machine learning, serta pengembang perangkat lunak dan aplikasi.
Sementara itu, pekerja tata usaha dan sekretaris. seperti kasir, petugas tiket, serta asisten administrasi diharapkan mengalami penurunan terbesar. Sementara pekerjaan yang menurun paling cepat mencakup petugas layanan pos, teller bank, dan petugas entri data.
“Rata-rata pekerja dapat memperkirakan bahwa dua perlima (39%) dari keahlian mereka yang ada akan berubah atau menjadi usang selama periode 2025-2030. Namun, ukuran ketidakstabilan keterampilan ini melambat dibandingkan edisi laporan sebelumnya, dari 44% pada 2023 dan titik tertinggi 57% pada 2020 setelah pandemi,” tulis WEF.

