Impor Barang Modal September Anjlok, Apa Artinya?
JAKARTA, investortrust.id – Nilai impor barang modal pada September 2023 turun 12,27% secara bulanan (month to month/mtm), sedangkan secara tahunan (year on year/yoy) atau dibanding September 2022 anjlok 15,57%. Kondisi ini patut dicermati. Apa artinya?
Menurut Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, nilai impor pada September 2023 mencapai US$ 17,34 miliar, turun 8,15% secara bulanan (mtm) atau dibanding Agustus 2023. Adapun secara tahunan (yoy) melorot 12,45%.
Baca Juga
Amalia menjelaskan, impor seluruh jenis penggunaan pada September 2023 naik, kecuali barang modal yang anjlok 15,57% (yoy). "Nilai impor barang konsumsi naik 1,03%, bahan baku penolong naik 0,09%, tetapi nilai impor barang modal turun 15,57% (yoy)," ujar Amalia di Jakarta, Senin (16/10/2023).
Barang modal merupakan barang yang digunakan dalam proses produksi barang atau jasa, seperti mesin dan peralatan pabrik. Berdasarkan catatan investortrust.id, penurunanimpor barang modal, terutamadari sisi volume, mengindikasikan kegiatan produksi di dalam negeri yang bakal menurun untuk jangka tertentu. Penurunan kegiatan produksi ini juga mengindikasikan penurunan kegiatan ekonomi ke depan.
Adapun jika impor barang modal turun dari sisi nilai, ada kemungkinan hal itu terjadi akibat mahalnya harga barang modal, baik disebabkanpelemahan nilai tukar rupiah maupun semata akibat kenaikan harga yang mendorong pengusaha di dalam negeri mengurangi atau menahan impor. Sebaliknya, bisa pula terjadi akibat penguatan nilai tukar rupiah yang membuat nilai impor mengecil.
Catatan investortust.id juga menunjukkan, impor barang modal kerap turun saat perekonomian nasional melemah atau ketika Indonesia menghadapi pemilu. Menjelang pesta dmeokrasi, para pengusaha manufaktur di dalam negeri umumnya memilih wait and see.
Baca Juga
Amalia Adininggar tidak merinci penyebab turunnya impor barang modal. Dia hanya mengatakan, nilai impor barang modal secara bulanan (mtm) juga turun, sejalan dengan penurunan impor barang segala jenis penggunaan.
“Impor barang konsumsi turun paling dalam sebesar 22,10% (mtm), diikuti penurunan impor bahan baku atau penolong sebesar 4,68%. Nilai impor barang modal juga turun 12,27% (mtm),” tutur dia.
Amalia menambahkan, impor migas turun 2,85% (yoy), sedangkan impor nonmigas terpangkas 14,46% (yoy). "Penurunan impor nonmigas melanjutkan tren penurunan yang juga terjadi pada bulan lalu," tutur dia.
Tiongkok, menurut Amelia, masih menjadi negara utama asal impor nonmigas Indonesia dengan kontribusi 35,35% pada September 2023. (CR-2)

