Dalam Pidatonya, Prabowo Sebut Kata “Politik” Sebanyak 5 Kali. Apa Artinya?
JAKARTA, investortrust.id - Prabowo Subianto beserta Gibran Rakabuming Raka resmi dilantik menjadi presiden dan wakil presiden RI untuk periode 2024-2029. Dalam pidato pertamanya usai dilantik, menurut pantauan investortrust.id, Minggu (20/10/2024) Prabowo cukup sering mengucapkan kata politik, setidaknya sebanyak lima kali. Lalu apa arti politik yang disampaikan Prabowo dalam pidatonya yang berdurasi kurang lebih 60 menit tersebut?
“Sekarang saya mengajak saudara-saudara, terutama unsur pimpinan dari semua kalangan, dari kalangan cendekiawan, ulama, pengusaha, pemimpin politik, pemuda dan mahasiswa, mari kita berani menghadapi tantangan-tantangan tersebut,” ujar Prabowo.
Kata politik dalam penggalan kalimat tersebut merepresentasikan imbauan agar berbagai pihak, termasuk pimpinan politik berkolaborasi untuk menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia ke depan.
Saat ini Indonesia memang dihadapkan pada tantangan yang tidak mudah, termasuk tantangan global. Perubahan iklim, ketahanan pangan, keamanan energi, perdagangan internasional, isu kesehatan global, terorisme dan radikalisme, ketidaksetaraan ekonomi, dan lainnya, masih jadi isu penting yang harus dihadapi RI.
Oleh karena itu, sebagai presiden ia mengutamakan kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia di atas segala golongan apalagi kepentingan pribadi. Karena tantangan, rintangan, hambatan, dan ancaman yang dihadapi bangsa Indonesia di tengah dinamika dan pergulatan dunia tidak ringan.
Baca Juga
Persembahkan Gala Dinner, Presiden Prabowo Apresiasi Kehadiran 34 Tamu Negara di Indonesia
Selain tantangan global, ia juga menyoroti tantangan yang berasal dari dalam negeri, misalnya sejumlah penyimpangan yang terjadi dari anggaran belanja, kolusi di antara pejabat politik dan pemerintah, hingga pengusaha-pengusaha nakal.
Masih dalam konteks yang sama, Prabowo kembali menyebut kata politik untuk yang kedua kalinya, dengan maksud menyinggung para oknum pejabat politik yang melakukan korupsi, kolusi, dan tindakan nakal lainnya.
“Kita harus berani mengakui terlalu banyak kebocoran-kebocoran dari anggaran kita penyimpangan-penyimpangan, kolusi diantara para pejabat politik, pejabat pemerintah di semua tingkatan, dengan pengusaha-pengusaha yang nakal, pengusaha-pengusaha yang tidak patriotik. Jangan takut melihat realita ini,” ucapnya.
Baca Juga
Prabowo: Cita-Cita Bangsa Adalah Melihat Wong Cilik Senyum dan Tertawa
Ditambah masih banyak realita masyarakat yang belum menikmati hasil dari kemerdekaan. Karena masih banyak dari mereka yang berada di bawah garis kemiskinan, termasuk anak-anak yang tidak sarapan sebelum berangkat sekolah, juga tidak punya pakaian yang layak untuk bersekolah.
“Kita sebagai pemimpin politik jangan kita terlalu senang melihat angka-angka statistik yang membuat kita terlalu cepat gembira, terlalu cepat puas, padahal kita belum melihat gambaran sepenuhnya,” ucap Prabowo.
Kalimat diatas kembali menyinggung kata politik untuk yang ketiga kalinya, memberi representasi agar para elit politik jangan terbuai dengan angka-angka statistik, termasuk mungkin data perekonomian yang membanggakan. Namun harus melihat realita secara utuh.
Selanjutnya, masih dalam konteks yang serupa, Prabowo kembali menyebut kata politik, dengan mengimbau seluruh pihak untuk bersatu dan bekerja bersama-sama demi membangun Indonesia yang lebih baik lagi.
“Dalam sejarah politik hal ini mudah untuk kita ucapkan tidak mudah untuk kita capai, tapi kita bisa capai kalau kita bersatu dan bekerja sama,” ujarnya.
Karena dengan persatuan dan kerja sama, lanjut Prabowo, Indonesia akan mencapai apa yang dicita-citakan dan harapan para leluhur, yakni bangsa yang gemah ripah loh jinawi atau kondisi sejahtera dan sumber daya alam melimpah. Lalu totro tentrem atau keadaan damai sejahtera, juga menjadi bangsa yang baldatun toyyibatun atau bangsa yang baik dan sejahtera. Serta warbbun ghofur atau merujuk pada Tuhan yang maha pengampun.
Terakhir, Prabowo menyebut kata politik yang memberi sinyal arah kebijakan politik luar negeri di bawah kepemimpinannya. Di mana, dalam menghadapi dunia internasional, Indonesia akan memilih jalan bebas aktif non blok, dengan tidak mau ikut pakta militer manapun, dan memilih jalan untuk bersahabat dengan semua negara.
“Sudah berkali-kali saya canangkan Indonesia akan menjalankan politik luar negeri sebagai negara yang ingin menjadi tetangga yang baik. We want to be a good neighbor, kita ingin menganut filosofi kuno yaitu seribu kawan terlalu sedikit, tapi satu lawan terlalu banyak,” katanya.
Namun begitu, Prabowo menganut prinsip untuk Indonesia yaitu anti penjajahan. Karena seperti diketahui, Tanah Air pernah mengalami sejumlah penjajahan dan penindasan di masa lampau.

