Kadin Indonesia Serukan Penggunaan Pupuk Organik demi ‘Kesehatan’ Tanah
JAKARTA, Investortrust.id – Pemerintah dan para petani diserukan untuk memanfaatkan lebih banyak pupuk organik ketimbang pupuk berbasis kimia, karena pupuk berbasis kimia akan menyebabkan kualitas dan ‘kesehatan’ tanah semakin menurun. Akibatnya tentu akan berujung pada produktivitas varietas pertanian yang makin rendah.
Hal ini disampaikan Wakil Ketua Umum Bidang Pertanian Kadin Indonesia Devi Erina Rahmawati dalam diskusi acara FGD Pangan dengan tema "Memperkuat Basis Pangan Lokal, Memacu Pertumbuhan Ekonomi 8%" yang diselenggarakan oleh Investortrust.id di Jakarta, Kamis (19/12/2024).
Dalam kesempatan tersebut, ia menyoroti sekitar 70% lahan pertanian di Indonesia telah mengalami degradasi unsur hara dalam tanah, yang mengakibatkan rendahnya produktivitas hasil pertanian.
“Kita ini sudah 40 tahun menggunakan pupuk kimia. Dan studi riset di lapangan, juga keluhan dari petani, produktivitas kita setiap tahun menurun. Kalau historikal kita dulu produktivitas padi kita bisa 15 bahkan pernah mencapai 20 ton per hektare. Tahun ini itu hanya 5 ton per hektare Pak,” kata Devi.
Menurutnya, seruan untuk memanfaatkan pupuk organik ini memang tak terlepas dari kondisi pasokan bahan baku pupuk yang tengah terpngaruh oleh tensi geopolitik dunia yang meningkat. Selama ini Indonesia pun hanya bisa memperoleh 30% pasokan bahan baku amonia dari pasar dunia dari total kebutuhan.
Baca Juga
Kadin Indonesia Bidang Kelautan dan Perikanan Dukung Pemerintah Capai Swasembada Pangan
Sekadar informasi, produsen amonia terbesar dunia masih didominasi oleh China, diikuti oleh Rusia. Begitu perang antara Rusia dan Ukraina merebak, logistik pupuk dunia pun terganggu, dan terjadi kekurangan apsokan diikuti kenaikan harga. ”Ïtulah yang dialami oleh industri pupuk di Indonesia, tak hanya Indonesia saja, tapi seluruh dunia,” ujar Devi.
Situasi ini tentu akan menjadi kendala bagi sejumlah negara termasuk Indonesia yang tengah mengupayakan terciptanya swasembada pangan. “Kebutuhan pupuk kita itu masih kurang sekitar 4,5 juta ton dari kebutuhan total 13,5 juta ton per tahun.
Ia pun menyebut sudah saatnya para pelaku industri pertanian kembali menggiatkan penggunaan pupuk organik, yang sejatinya tersedia dengan baik di dalam negeri. “Dan kita sudah melakukan riset bersama Bulog dan juga BRIN, bahkan kita kerja sama juga dengan Bank Indonesia di Semarang serta Universitas Diponegoro (terkait pengembangan pupuk organik, red). Kita punya produsen-produsen pupuk organik di Indonesia dan itu banyak sekali,” tuturnya.
Masih dalam kesempatan yang sama, ia menyarankan agar penggunaan pupuk kimia diimbangi separuhnya dengan pupuk organik, dan ia meyakini hasil produk pertanian khususnya padi, bisa meningkat produktivitasnya. “Kalau kita gunakan pupuk organik 50 persen, 50 persennya pupuk kimia, kapasitas produksi (padi) per hektare bisa naik minimal 7 ton,” ujarnya optimistis.

