Hashim: Program 3 Juta Rumah Gerakkan 185 Bidang Usaha
JAKARTA, Investortrust.id – Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Hashim Djojohadikusumo menyebut program pembangunan 3 juta rumah per tahun akan mampu menciptakan pertumbuhan di luar target 8% yang dicanangkan pemerintahan Prabowo – Gibran. Program pembangunan 3 juta rumah dipastikan akan membantu pertumbuhan perekonomian Indonesia bisa mencapai 8%, karena akan ada 185 bidang usaha yang akan ikut bertumbuh.
“Ada banyak yang akan menyebabkan (pertumbuhan ekonomi sebesar 8%) itu, tapi yang dari perumahan itu belum termasuk 8%. Nah, kita kenapa saya fokus kepada perumahan,” ujar Hashim dalam kata sambutannya saat Rapimnas Kadin Indonesia yang digelar di Hotel Mulia, Jakarta, Minggu (1/12/2024).
.
Hashim meyakini, sektor perumahan akan menjadi satu pendorong perekonomian dan pertumbuhan ekonomi, seperti yang pernah ia pelajari dari sejumlah negara-negara yang gencar mengembangkan sektor perumahan, khususnya China.
Baca Juga
Hashim: MBG dan Program 3 Juta Rumah Jadi Stimulus Ekonomi Besar-besaran
“Berdasarkan sejarah ekonomi, perumahan ini adalah satu driver perekonomian dan pertumbuhan ekonomi. Dan saya dengar dari kawan-kawan dari Gapensi dan REI, saya dengar ada 185 bidang usaha yang terkait dengan perumahan. Yang pertama semen, terus besi, kemudian aluminium, kemudian kayu, dan sebagainya-sebagainya, ada kabel listrik, ada copper, ada macem-macem. 185 bidang,” ujarnya.
Masih menurut Hashim, Presiden Prabowo Subianto telah sepakat untuk menjadikan perumahan sebagai salah satu tujuan utama dalam pengembangan perekonomian nasional. Bahkan, lanjutnya, Prabowo juga sepakat untuk menjadikan sektor perumahan masuk sebagai salah satu bidang prioritas pemerintahannya.
Bicara soal China yang menjadi contoh pertumbuhan yang ditopang oleh properti, Hashim menggambarkan betapa pemerintahan RRC sejak dipimpin oleh Perdana Menteri Deng Xiaoping 35 tahun silam, telah menjadikan sektor perumahan sebagai salah satu basis pertumbuhan ekonomi di negaranya.
Ia menyebut, sampai tahun 2017 sektor perumahan merupakan penyumbang 25% dari GDP China. Kendati demikian ia juga mengakui bahwa kondisi sektor properti di Negeri Tirai Bambu tengah mengalami persoalan dalam kurun waktu 7 tahun terakhir. Seperti yang tengah dialami oleh Evergrande, Zhongzhi Enterprice Group, dan Country Garden. Namun disebutkan Hashim, persoalan yang melilit sejumlah perusahaan properti di China diakibatkan oleh ekses kebijakan uang murah di China, serta imbas dari kolusi antara pejabat dan perbankan.
“Tapi kita melihat ekonomi China selama 10 tahun, 20 tahun, 30 tahun pertama (setelah Deng Xiaoping berkuasa), China bisa sampai dapat growth 11%,” tuturnya.

