Usai Adaro Grup dan Agung Sedayu, Berau Coal akan Berpartisipasi Program 3 Juta Rumah
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menyebutkan bahwa PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) akan ikut mendukung program 3 juta rumah. Groundbreaking hunian di Kalimantan Timur ditargetkan mulai Desember 2024.
“Bulan depan, saya atau staf yang saya tugaskan akan menghadiri dua groundbreaking di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan dari dua pengusaha besar. Mereka akan membangun rumah, mengisi, dan diberikan kepada rakyat. (Siapa dua pengusaha itu?) Kaltim, BRAU. Kalsel, Adaro,” kata Ara, sapaan akrab Maruarar, di Rusun Pasar Rumput, Jakarta, Kamis (28/11/2024).
Baca Juga
Dorong Program 3 Juta Rumah, KAI Siapkan 17 Ha Lahan untuk Hunian Terintegrasi
Namun demikian, ia tak memperinci, nilai investasi dan luasan lahan permukiman yang bakal di-groundbreaking oleh kedua perusahaan milik konglomerat Indonesia tersebut.
Sebelumnya, Maruarar mengatakan, perusahaan milik Garibaldi Thohir atau Boy Thohir, yakni Adaro Group akan mulai groundbreaking Desember 2024 untuk mendorong program 3 juta rumah Prabowo Subianto.
''Bulan depan saya harapkan ada beberapa yang akan memulai groundbreaking. Dari diskusi sama saya, kemungkinannya Berau di Kalimantan Timur, kemudian Adaro di Kalimantan Selatan. Kemudian ini akan membuat semangat gotong-royong, dari yang besar membantu rakyat yang belum punya rumah,'' kata Ara beberapa waktu lalu.
Ia pun mengklaim Agung Sedayu Group milik Aguan sudah terlebih dahulu memulai Pembangunan kawasan permukiman di Tangerang, Banten. ''Kalau 1 November bulan ini, Agung Sedayu sudah mulai membangun di Tangerang. Tanah dari perusahaan saya, yang bangun Agung Sedayu, yang isi (perumahan) Agung Sedayu,'' tambah Ara.
Baca Juga
Bantu Program 3 Juta Rumah, Adaro Bakal 'Groundbreaking' di Kalsel
Adapun perusahaan-perusahaan tersebut menggunakan dana CSR mereka untuk mendukung pembangunan hunian tetap, utamanya masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Ara juga menyebutkan bahwa skema dengan menggandeng para konglomerat ini merupakan terobosan untuk menyokong pembangunan 3 juta rumah setahun serta untuk menambal anggaran negara (APBN) yang hanya Rp 5 triliun.
''Kalau pakai dana pemerintah, tahun lalu saya dapat paling sekitar Rp 14 triliun, cuman bisa bangun paling 200 ribu rumah lebih. Tahun ini dananya kurang, paling Rp 5 triliun. Kalau pakai anggaran aja, sudah pasti nggak tercapai. Jadi kita mesti terobosan,'' tutup dia.

