Bahlil Ungkap ‘Setan’ yang Ganggu Hilirisasi Nikel RI, Siapa Dia?
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengungkapkan, upaya Indonesia dalam melakukan hilirisasi nikel ternyata mendapat banyak gangguan dari banyak ‘setan.’
Sebagaimana diketahui, pada 2020 Presiden Joko Widodo (Jokowi) memutuskan untuk menutup keran ekspor bijih nikel. Namun, Uni Eropa melalui World Trade Organization (WTO) telah mengajukan gugatan terhadap kebijakan Indonesia tersebut.
“Bukan gak ada setannya. Ini setannya banyak sekali. Jadi waktu kami menyetop ekspor ore (bijih) nikel, di saat saya masih Menteri Investasi, ini rayuannya di mana-mana paling banyak. Kita dibawa oleh Uni Eropa, kita dirayu,” beber Bahlil dalam acara BNI Investor Daily Summit 2024, Rabu (9/10/2024).
Baca Juga
Uni Eropa Gugat Larangan Ekspor Nikel Indonesia, Pemerintah Kebut Penyelesaian IEU-CEPA
Bahlil menyebutkan, alasan utama Uni Eropa merayu Indonesia untuk membuka kembali keran ekspor ore nikel karena nikel sudah masuk ke dalam kategori mineral kritis. Apalagi, nikel merupakan bahan baku untuk menuju green energy.
“Mobil listrik itu komponennya 40% itu baterai, dan 60% itu rangka-rangka mobil. Dan komponen dari 40% baterai itu, hanya ada empat bahan-bahannya, yaitu nikel, kobalt, mangan, dan litium. Indonesia yang tidak punya itu hanya litium. Mangan, kobalt, dan nikel kita punya,” ungkap dia.
Lebih lanjut, Ketua Umum Partai Golkar itu menyampaikan bahwa berdasarkan laporan Badan Geologi Amerika Serikat, saat ini Indonesia memiliki 40-42% cadangan nikel di dunia.
Maka dari itu, menurut Bahlil, hanya Indonesia negara yang mampu membangun ekosistem baterai mobil di dunia, yang terintegrasi dari hulu sampai hilir. Menurutnya, ini harus sangat dimanfaatkan oleh Indonesia.
Baca Juga
Jokowi: Hilirisasi Nikel dan SDA Kunci Peningkatan Ekonomi Nasional
“Dari mining, smelter, katoda, battery cell, sampai mobil, sampai recycle-nya, itu cuma ada di Republik Indonesia, tidak ada di negara lain. Dan kita kemarin sudah meresmikan pabrik (battery cell) 10 giga tahap pertama, investasi dari Korea,” sebut Bahlil.
Sebagai informasi, dengan Indonesia menutup keran ekspor bijih nikel, Bahlil mengatakan bahwa itu telah membawa kemajuan ekonomi nasional. Sebab, nilai ekspor bijih nikel pada 2017-2018 hanya US$ 3,3 miliar, sedangkan nilai ekspor produk turunan nikel pada 2023 mencapai US$ 34,4 miliar.
“Kita memberikan target untuk ekspor kita di 2024 kurang lebih sekitar hampir US$ 40 miliar. Dan untuk komoditas daripada turunan hilirisasi nikel, kita sudah menjadi terbesar di pasar dunia,” tegas dia.

