Tak Hanya Nikel, Bahlil Sebut Komoditas Lain yang Digenjot untuk Hilirisasi
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan, hilirisasi yang saat ini sedang digenjot oleh pemerintah tidak sebatas pada nikel saja. Dia menyebut, terdapat 26-28 komoditas yang bakal didorong.
Bahlil yang juga menjabat sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Hilirisasi dan Ketahanan Energi menerangkan, sejumlah sektor yang menjadi fokus pemerintah untuk dilakukan hilirisasi meliputi perikanan, kehutanan, pertanian, minyak dan gas (migas), serta mineral batu bara (minerba).
“Memang selama ini kita dorong itu nikel. Tapi (hilirisasi) tembaga sekarang kan sudah jalan, kemudian bauksit, kemudian kita dorong timah, kemudian oil and gas itu sekarang kita lagi mendorong untuk membangun metanol,” ungkap Bahlil di Sekretariat Kementerian ESDM, dikutip Senin (13/1/2025).
Dipaparkan oleh Bahlil, Indonesia membutuhkan sekitar 2,3 juta ton metanol sebagai bagian peralihan dari implementasi B35 ke B40. B40 sendiri adalah bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dengan campuran bahan bakar nabati biodiesel berbasis minyak sawit sebesar 40%.
Baca Juga
Tak Hanya Makan Bergizi, PM Jepang Dukung Swasembada Pangan dan Hilirisasi
“Metanol produksi dalam negeri kita tidak lebih dari 500 ribu ton. Artinya kita selama ini impor 80% (untuk penuhi kebutuhan dalam negeri). Nah ini kita dorong untuk kita bangun metanol di Bojonegoro,” sebut dia.
Selain itu, Bahlil juga menyampaikan bahwa pemerintah akan mendorong pembangunan industri amonia di Papua Barat, serta industri lainnya di berbagai wilayah. Hal ini dimaksudkan agar hilirisasi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang cukup.
“Jadi hilirisasi ini pencipta lapangan pekerjaan tapi dengan gaji yang berkualitas. Hilirisasi ini janganlah kita bicara UMR. Kalau UMR itu padat karya. Hilirisasi ini padat karya juga, tapi yang gajinya tinggi. Untuk meningkatkan pendapatan per kapita kita,” beber Bahlil.

