Punya Kapasitas 1.760 MW, PLTGU Milik Pertamina Ini Masih Akan Ekspansi
KARAWANG, investortrust.id - Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Jawa-1 Power merupakan PLTGU dengan kapasitas terbesar di Asia Tenggara. Meski begitu, PLTGU ini tetap memiliki rencana untuk melakukan ekspansi.
PLTGU Jawa-1 Power yang terletak di Karawang, Jawa Barat ini adalah proyek konsorsium Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE), Marubeni, dan Sojitz. PLTGU ini telah beroperasi secara penuh sejak 29 Maret 2024.
General Manager PLTGU Jawa-1 Power, Rudy Smith mengatakan, saat ini para pemegang saham sedang melakukan diskusi intensif dengan PLN dan juga Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk mengkaji kemungkinan ekspansi.
Baca Juga
PLTGU-1 Power Punya Kapasitas Listrik Terbesar se-ASEAN, Lokasinya di Pusat Beban Jawa-Bali
“Kami juga sedang mempertimbangkan, tentunya nanti tergantung kepada PLN dan juga pemerintah apakah memungkinkan apabila Jawa-1 Power menambah kapasitas. Seandainya nanti ada penambahan kapasitas pembangkit, tentunya total MW-nya akan lebih tinggi dari 1.760 MW,” ungkap Rudy di Karawang, Jawa Barat, Minggu (22/9/2024).
Diterangkan oleh Rudy, kapasitas PLTGU Jawa-1 Power sekarang adalah 2x880 megawatt (MW), atau total 1.760 MW. Adapun untuk melakukan ekspansi diperlukan kajian mendalam terhadap berbagai aspek.
“Kami saat ini belum bisa menghitung kira-kira berapa kapasitas yang bisa kami tambahkan, karena kita ingin melihat apakah peralatan yang kami punya sekarang itu masih mempunyai excess capacity, sehingga kami bisa menambah kapasitas. Jadi itu masih dalam kajian kita saat ini,” ujar dia.
Rudy mengungkapkan, sejak memasuki tahapan commercial operation, pihaknya wajib untuk mensupport permintaan PLN untuk mengirimkan tenaga listrik. Terkait seberapa besar listrik yang harus dikirimkan ke transmisi milik PLN itu tergantung kepada permintaan PLN.
“Jawa-1 Power mempunyai kontrak 25 tahun dengan PLN untuk mendukung keperluan PLN. Setelah masa kontrak itu selesai, maka semua fasilitas yang kami punyai saat ini akan dipindahtangankan kepemilikannya menjadi milik PLN. Ini memang bagian yang sudah ditandatangani oleh kedua belah pihak,” sebut Rudy.
Sebagai informasi, PLTGU ini sejatinya menghubungkan pembangkit listrik bertenaga gas uap dengan fasilitas penyimpanan sekaligus regasifikasi LNG yang berada di atas sebuah kapal terapung alias Floating Storage Regasification Unit (FSRU).
Baca Juga
Suku Bunga Turun, 4 Jenis Reksa Dana Ini Catat Kenaikan Return Mingguan
Untuk LNG yang digunakan pada PLTGU Jawa-1 Power sendiri berasal dari Blok LNG Tangguh yang terletak di Teluk Bintuni, Papua Barat. Mekanisme teknis penyaluran LNG tersebut dilakukan dengan transfer Ship to Ship ke Floating Storage Regasification Unit (FSRU) Jawa-1.
“Mengenai masalah suplai LNG, jadi Tangguh Train 3 itu sebetulnya didesain untuk proyek PLTGU Jawa-1 Power. Mekanisme pembeliannya adalah karena kewajiban PLN untuk suplai LNG, maka mekanisme pembelian LNG jangka panjang ini, 25 tahun, itu antara PLN dan pihak Tangguh. Kami di sini hanya menerima,” jelas Rudy.
Diterangkan oleh Rudy, kewajiban PLN adalah membayar langsung suplai LNG tersebut ke pihak Tangguh, kemudian mereka mengirimkan ke FSRU milik Jawa-1 Power. PLN mempunyai operating system di Gandul, di daerah Depok, yang mengontrol transmisi Jawa-Bali.
“Seandainya PLN gagal untuk melakukan pengadaan LNG Jawa-1 Power bagaimana? Selama kami available, kewajiban PLN untuk membayar kami nantinya. Karena tadi di PPA, di proses kontrak jual beli itu sudah didefinisikan risiko masing-masing, risiko PLN, risiko Jawa-1 Power,” bebernya.

