Banyak Ditemukan Sumur Gas Baru, Kenapa Impor LPG Masih Tinggi?
JAKARTA, investortrust.id - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) menyebut penemuan banyak sumur gas baru. Meski begitu, nyatanya impor liquefied petroleum gas (LPG) Indonesia masih sangat tinggi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengungkapkan, konsumsi LPG saat ini kurang lebih sekitar 7 juta ton. Sedangkan industri dalam negeri hanya mampu menghasilkan 1,9 juta ton. Dengan kata lain, kekurangannya itu ditutup melalui impor LPG.
Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN), Djoko Siswanto, tidak memungkiri bahwa yang menjadi kendala untuk persoalan impor LPG ini karena produksi LPG di dalam negeri masih sangat rendah. Dia pun membeberkan faktor rendahnya produksi LPG ini.
Baca Juga
Subsidi LPG dan Listrik di RAPBN 2025 Makin Besar, Bahlil Ungkap Penyebabnya
“Kita tuh produksi gas, tapi kebanyakan C1, C2, etana, metana. Itu gak bisa dijadikan LPG. LPG adalah propana, butana, C3, C4. Sayangnya sumur-sumur gas kita itu banyak memproduksinya metana, etana, bukan propana, butana. Jadi, otomatis kita harus menggantikan konversi,” kata Djoko Siswanto saat ditemui di Menara Bank Mega, Rabu (11/9/2024).
Untuk mengurangi impor LPG yang tinggi ini, pemerintah sejatinya sudah menyiapkan sejumlah program. Salah satunya adalah dengan pengembangan gasifikasi batu bara (dimethyl ether/DME) untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat.
“Kemudian yang kedua adalah kompor listrik. Tanggal 17 September (2024) ini akan ada sosialisasi kompor listrik kepada ibu-ibu. Dan kompor listrik itu jauh lebih hemat dibanding LPG,” jelas Djoko Siswanto.
