ESDM Ungkap Dampak Konflik Global terhadap Ketahanan Energi Nasional
JAKARTA, investortrust.id - Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dadan Kusdiana menyebut, konflik global yang terjadi di belahan dunia lain dapat memicu naiknya harga-harga komoditas, utamanya yang berkaitan dengan ketahanan energi nasional.
Dadan menyebut, Indonesia sebetulnya memiliki posisi yang agak unik. Karena selain sebagai produsen energi fosil, Indonesia juga menjadi importir. Maka dari itu, jika terjadi konflik global seperti Rusia-Ukraina dan di Timur Tengah, hal itu selain membawa efek negatif sebagai importir minyak dan gas bumi, di saat bersamaan membawa dampak positif sebagai eksportir mineral dan batu bara.
“Kita impor minyak mentah, kita impor juga BBM khususnya bensin. Kalau kita impor, pasti harganya internasional. Tapi di sisi yang lain kita juga ekspor gas. Sekitar 32% gas kita diekspor, kemudian kita juga menjadi produsen dari mineral dan batu bara yang besar," kata Dadan dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (8/8/2024).
Baca Juga
Tekankan Peningkatan Lifting Migas, Luhut: Untuk Wujudkan Ketahanan Energi
Dadan tidak memungkiri, konflik global tentunya mempengaruhi kedua sisi Indonesia sebagai eksportir dan importir. Misalnya, meningkatnya harga crude akibat konflik akan membawa dampak negatif untuk Indonesia. Namun di sisi lain Indonesia juga merupakan eksportir crude yang menikmati kenaikan harga akibat konflik.
"Kalau harga minyak kita naiknya US$ 1 per barel, itu menambah pendapatan negara Rp 3,3 triliun. Tapi di sisi lain karena kita impor baik minyak mentah maupun BBM, belanja negara bakal melonjak menjadi Rp 9,2 triliun. Sehingga kalau naik itu sebetulnya lebih banyak pengaruhnya untuk crude karena terjadi defisit Rp 5 triliun sampai Rp 6 triliun untuk kenaikan US$ 1 per barel," terangnya.
Salah satu konsumen terbesar BBM adalah pembangkit listrik, namun demikian dampak yang ditimbulkan tidak terlalu besar karena pembangkit listrik yang beroperasi di Indonesia 66% berbahan baku batu bara (PLTU) yang dilindungi dengan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) dengan patokan harga tertinggi US$ 70 per ton.
Baca Juga
Peran Penting Industri Panas Bumi dalam Kebijakan Transisi, Ketahanan Energi dan Ekonomi Nasional
"Alhamdulillah untuk listrik tidak terlalu berdampak karena kita punya kebijakan yang sangat baik. Basisnya sekarang 66% itu dari batu bara. Sementara batu baranya kan sudah di-cap harganya maksimum di angka US$ 70 sehingga tidak akan pernah lewat dari situ sehingga bisa dijaga dari sisi volatilitas harga batu bara internasional," ungkap Dadan.
Sebaliknya, ekspor batu bara yang dilakukan Indonesia telah membawa keuntungan besar bagi Indonesia karena harga ekspor mengikuti harga pasar internasional yang membawa peningkatan penerimaan negara.
"Saya kira ini sesuatu yang bukan dilihat apakah ini bagus atau jelek gitu. Memang ada trade off-nya di situ karena kita tidak murni sebagai importir. Kita juga tidak 100% sebagai produsen, jadi harga internasional ini mempengaruhi," ujar Dadan.
Baca Juga
Pengamat Energi Sebut Faktor Kunci Ketahanan Energi, Apa Saja?
Dadan mencontohkan dampak konflik global di tahun 2023 yang menaikkan harga komoditas global membuat penerimaan negara meningkat hingga 116% dari target atau sebesar Rp 300 triliun.
"Tahun 2023 harga komoditas bagus. Harga batu bara tinggi, harga mineral juga, termasuk nikel. Pendapatan PNBP bisa menembus Rp 300 triliun atau 116% dari target di tahun tersebut. Jadi memang dinamis saja melihatnya antara harga dan PNBP itu sesuatu hal yang sangat berkaitan," tutur Dadan.

