Ekspor Lidi Nipah dan Sawit Berpotensi Tarik Devisa
JAKARTA, investortrust.id - Selama lima tahun terakhir, neraca perdagangan lidi nipah dan kelapa sawit Indonesia selalu mencatatkan surplus. Pada 2023, surplus perdagangan lidi dari nipah dan kelapa sawit mencapai US$ 29,14 juta, lebih tinggi dibandingkan tahun 2022 sebesar US$ 26,27 juta.
Salah satu eksportir lidi nipah dan lidi sawit asal Indonesia adalah Rianto Aritonang, pemilik CV Kahaka Internasional. Alumnus program Coaching Program New Exporters (CPNE) LPEI pada 2020 lalu itu mampu mengekspor lidi dari limbah kelapa sawit ke tujuh negara di antaranya Pakistan, India, Nepal, Vietnam, Singapura, dan Bangladesh.
Rata-rata ekspor lidi kelapa sawit yang dilakukannya sebanyak 12 hingga 15 kontainer per bulan. Sejak 2020 hingga Juni 2024, CV Kahaka Internasional telah melakukan ekspor 8.500 metrik ton lidi sawit atau sebanyak 622 kontainer dengan nilai ekspor US$ 3,5 juta.
“Satu kontainer itu dapat memuat hingga 25 ton lidi senilai Rp 130-150 juta per kontainer. Lidi-lidi tersebut nanti diolah lagi di negara tujuan menjadi sapu lidi siap pakai. Kami juga ekspor sapu lidi siap pakai ke Singapura dengan harga Rp 10-12 ribu per buah, yang dijual kembali oleh pihak distributor seharga SGD 2 per buah atau sekitar Rp 20-25 ribu,” kata Rianto.
Baca Juga
Eksportir Sarang Burung Walet (NEST) Listing Besok, Begini Gambaran Valuasi Sahamnya
Untuk memenuhi permintaan ekspor, Rianto memanfaatkan Kredit Modal Kerja Ekspor Penugasan Khusus Ekspor (PKE) UKM LPEI. Pemerintah memberikan Penugasan Khusus Ekspor (PKE) kepada LPEI untuk menyediakan pembiayaan, penjaminan dan/atau asuransi kepada kegiatan ekspor yang secara komersial sulit untuk dilaksanakan, tetapi dianggap perlu untuk menunjang kebijakan ekspor nasional.
Dia bercerita awal mula melakukan ekspor lidi sawit adalah ketika melihat teman-temannya yang bekerja sebagai pengepul pinang kehilangan pekerjaan akibat pandemi Covid-19. Rianto yang tumbuh besar di perkebunan kelapa sawit dan bekerja sebelumnya sebagai engineer di industri perkapalan mulai mencari seluk beluk bisnis ekspor. Peluang pertama terlihat dari ekspor buah pinang ke negara-negara Asia Selatan. Tidak berhenti di situ, Rianto melakukan eksplorasi peluang ekspor lainnya.
"Saya menyadari bahwa di Sumatera memiliki banyak perkebunan kelapa sawit, dan pelepah sawit selalu terbuang setiap panen dua minggu sekali. Saya berbicara dengan pembeli dan meyakinkan mereka untuk mencoba lidi sawit. Pada November 2020, kami berhasil ekspor perdana ke India dan ternyata mereka suka,” kata dia.
Rianto mengatakan secara kekuatan, lidi kelapa sawit tidak jauh berbeda namun biayanya 20% lebih murah dibandingkan lidi dari pohon kelapa yang juga terbatas produksinya.
Baca Juga
Ekspor Perikanan RI ke Uni Eropa Stagnan Selama 7 Tahun, Ini Biang Keroknya
“Sementara lidi dari limbah sawit selalu tersedia karena panen dilakukan dua minggu sekali sehingga ada jaminan pasokan bahan baku dan lebih ramah lingkungan," kata Rianto.
Ekspor lidi dari limbah sawit tidak hanya berkontribusi pada pengurangan limbah tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan petani sawit mitra CV Kahaka Internasional. Untuk memenuhi bahan baku lidi sawit yang berasal dari limbah, CV Kahaka Internasional bermitra dengan lebih dari 300 petani sawit yang tersebar di 15 lokasi di Pulau Sumatera dan Jawa, seperti di Siantang, Dumai, Lampung, dan Pemalang.
Berdasarkan data yang dirilis oleh International Trade Centre (ITC) melalui trademap, pada tahun 2023, Indonesia berada di peringkat kedua sebagai negara eksportir utama lidi sipah dan lidi sawit di dunia dengan porsi 12,42% terhadap total ekspor dunia, setelah China sebesar 20,90%.
Negara eksportir terbesar berikutnya adalah Sri Lanka dengan porsi 11,95%, Belanda dengan porsi 5,31%, dan Meksiko dengan porsi 5,29%. Perkembangan terkini, nilai ekspor lidi nipah dan kelapa sawit periode Januari-Juni 2024 mencapai US$ 10,18 juta atau turun 27,59% dari US$ 14,06 juta pada periode sama tahun sebelumnya.
Penurunan ini sejalan dengan turunnya sisi volume, yang hanya mencapai 26,6 ribu ton atau turun 18,91% secara tahunan dari 32,8 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga
Kepala Bapanas Sebut Indonesia Bakal Ekspor Bawang Merah ke Thailand
Penurunan ekspor paling dalam dicatatkan ke India yang turun 51,85%, diikuti Jepang 17,82%, dan China 34,93%.
Di tengah tren penurunan ini, ekspor lidi nipah dan kelapa sawit Indonesia pada periode tersebut ke sejumlah negara masih mencatatkan peningkatan, seperti ke Pakistan naik 11,05%, ke Filipina naik 20,03%, dan ke Vietnam naik 194,59%.
“Melihat realisasi nilai ekspor Semester I-2024 maka nilai ekspor menunjukkan penurunan hingga akhir 2024, terutama ke India, Jepang, dan China. Era suku bunga tinggi melemahkan sektor properti global dan mengurangi permintaan produk furnitur dan home decor, konsumen cenderung memilih produk esensial,” kata Senior Economist Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) Donda Sarah Hutabarat, melalui keterangan resminya, Rabu (7/8/2024).
Sarah mengatakan Indonesia sebagai salah satu produsen utama diharapkan dapat memanfaatkan peluang ini dengan memperluas jaringan distribusi dan meningkatkan kualitas produk di pasar non-tradisional.
Berdasarkan data ITC Export Potential Map, juga masih terdapat potensi ekspor lidi nipah dan kelapa sawit Indonesia dengan negara-negara dengan potensi pasar tinggi untuk produk lidi antara lain Amerika Serikat, Malaysia, Filipina, Inggris, Belanda, Taiwan, dan Prancis.

