Telan Anggaran Rp 161,5 M, Penataan Kawasan Waterfront City Pangururan di Danau Toba Rampung
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya telah merampungkan penataan Kawasan Waterfront City Pangururan di Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Danau Toba, Sumatera Utara yang menelan anggaran sebesar Rp 161,5 miliar.
Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono mengatakan, penataan kawasan seluas 64 hektare (ha) tersebut mencakup pembangunan jalan, penyediaan air baku dan bersih, pengelolaan sampah, sanitasi, serta perbaikan hunian penduduk.
Ia menggarisbawahi dalam program pengembangan Kawasan Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) Danau Toba, infrastruktur menjadi prioritas utama dalam penataan kawasan itu, diikuti oleh fasilitas penunjang dan promosi besar-besaran untuk menarik wisatawan.
“Untuk pariwisata, pertama yang harus diperbaiki infrastrukturnya, kemudian amenities, dan event, baru promosi besar-besaran. Itu yang harus kita jaga betul. Kalau hal itu tidak siap, wisatawan akan datang sekali saja dan tidak kembali lagi. Prinsip penataan kawasan wisata ini adalah mengubah wajah kawasan dengan cepat, terpadu dan memberikan dampak bagi ekonomi lokal dan nasional,” kata Basuki dalam keterangan tertulis.
Baca Juga
Direktur Pengembangan Kawasan Permukiman, Wahyu Kusumosusanto menambahkan, penataan kawasan Waterfront City Pangururan dibangun dengan anggaran sebesar Rp 161,5 miliar, sekaligus dengan penataan kawasan Panorama Tele. Pembangunan dimulai pada 19 September 2022 dan selesai pada 23 Januari 2024.
Setelah dilakukan penataan, lanjut Wahyu, saat ini Kawasan Waterfront City Pangururan dilengkapi dengan berbagai instalasi seni yang dirancang untuk memperkaya pengalaman wisata di Danau Toba. Beberapa instalasi tersebut antara lain, Patung Boraspati Tano dan Boru Saniang Naga yang menggambarkan kebudayaan Batak, kemudian Patung Pustaha dan Syair Tao Toba yang merepresentasikan kekayaan literatur lokal, serta display batuan geologi Toba yang bersifat edukatif.
“Selain itu, atraksi seni air mancur ‘Aek Menari’ dan panggung apung ‘Aek Natio’ akan menjadi pusat pertunjukan seni dan budaya. Diputar pula instalasi seni musik ‘Aek Margondang’ yang akan memperdengarkan musik tradisional Batak. Dan juga Taman Rohani dan Instalasi Dry Fountain Plaza Rohani menawarkan ruang refleksi dan spiritual yang menenangkan,” jelas dia.
Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Sumatera Utara, Deva Kurniawan Rahmadi turut menyampaikan, Kawasan Waterfront City Pangururan juga akan dilengkapi dengan Galeri Samosir yang akan menampilkan kekayaan budaya dan sejarah Samosir. Di dalamnya terdapat instalasi seni tradisi “Solu Bolon” dan ukiran totem Batak. Selain itu, storytelling signages di Pangururan Waterfront juga akan memberikan wawasan mendalam tentang sejarah dan budaya setempat.
“Penataan Kawasan Waterfront City Pangururan ini merupakan komitmen pemerintah dalam memajukan sektor pariwisata melalui pengembangan infrastruktur berkelanjutan dan berbasis kearifan lokal. Diharapkan kawasan Danau Toba semakin dikenal secara internasional sebagai destinasi wisata dengan keindahan alam, kekayaan budaya, dan pengalaman yang tak terlupakan,” pungkas Deva.

