Pengamat Ini Peringatkan Pabrikan Otomotif Jepang dalam Industri EV di Indonesia
JAKARTA, investortrust.id – Pengamat Otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menyebutkan persaingan pasar mobil dalam negeri kian ketat, seiring gencarnya peluncuran produk baru dengan harga terjangkau dari pabrikan China.
Kehadiran pabrikan mobil China bisa menggerus pasar pabrikan otomotif asal Jepang, jika tidak diimbangi dengan strategi kuat. Hal ini terlihat dari penruunan angka penjualan mobil sejumlah pabrik asal Jepang di Indonesia, seperti Toyota, Honda, Mitsubishi, dan beberapa merek lainnya.
Baca Juga
Dorong Industri Baterai EV Indonesia, Moeldoko: Pemerintahan Wajib Gunakan Kendaraan Listrik
Yannes Martinus Pasaribu mengatakan, meskipun potensi pasar mobil dari Negeri Sakura masih menjanjikan di Indonesia, namun pabrikan asal Jepang perlu menyadari persaingan ketat dengan pabrikan mobil asal China.
“Peluncuran EV Toyota di GIIAS 2024 merupakan langkah signifikan dalam upaya transisi menuju kendaraan listrik di Indonesia. Prospek pasar EV Toyota, baik secara nasional maupun global, memiliki potensi yang sangat menjanjikan, namun juga dihadapkan pada tantangan meskipun harga mobil listrik terus menurun,” kata Yannes saat dihubungi investortrust.id, Senin (29/7/2024).
Dia mencontohkan, harga rata-rata unit mobil listrik (electric vehicle/EV) Toyota dengan EV China terpaut mahal, sehingga ini menjadi penting mengingat pangsa pasar kendaraan roda empat menyasar kaum milenial.
“Harga EV Toyota masih lebih mahal dibandingkan dengan EV China, sedangkan pasar terbesar Indonesia yang notabene ada di rentang harga Rp100 - 450 juta kini mulai bergeser ke kelompok milenial yang semakin price conscious. Kelompok milenial tidak lagi menjadi loyalis brand, mereka lebih mengedepankan desain, fitur dan user experience (UX) terbaik untuk uang dengan harga yang terjangkau,” ungkap Yannes.
Baca Juga
Yannes turut menyoroti, apabila mobil listrik Toyota masih bermain dengan harga premium, maka kecenderungan konsumen untuk membeli hanya terpaut pada golongan yang sudah merdeka secara finansial, terutama generasi baby boomers hingga Generasi X.
“Jika EV Toyota bermain di kelas premium, jelas pasarnya akan sangat kecil dan cenderung lebih berfokus pada kelompok Baby Boomers dan kelas di atas Rp 450 juta yang mulai masuk ke segmen premium dengan pasar yang lebih kecil,” ucap dia.
Menurut Yannes, Toyota perlu mempertimbangkan strategi penentuan harga mobil listrik yang lebih agresif untuk bersaing di Indonesia. “Selain itu, fokus pada aspek lain seperti kualitas, durabilitas, dan layanan purna jual yang lebih baik dapat menjadi pembeda (daripada kompetitor lainnya),” imbuh dia.
Berdasarkan catatan investortrust.id, penjualan mobil Toyota di Indonesia sepanjang semester I-2024 pabrikan ke dealer (wholesales) hanya berjumlah 408.012 unit. Jumlah ini merosot 19,4% (YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 506.427 unit.
Baca Juga
TAM: Penjualan Mobil Listrik dan Hybrid Toyota Naik 74% Semester I- 2024
Hal ini diungkapkan oleh Direktur Marketing TAM, Anton Jimmi Suwandy pada saat Media Gathering TAM di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2024, ICE BSD Tangerang, Selasa (23/7/2024) lalu.
Kemudian, lanjut Anton, untuk penjualan dealer ke ritel (retail sales) sebanyak 431.987 unit sepanjang bulan Januari-Juni 2024. Angka tersebut turun 14,3% (YoY) dari periode sebelumnya sebanyak 502.533 unit.
Kendati demikian, Anton tetap optimistis penjualan mobil pada semester II-2024 akan jauh lebih baik dibandingkan dengan semester I-2024. Sebab, beberapa model baru sudah diluncurkan dan siap menarik minat masyarakat Indonesia untuk mengganti kendaraan roda empat lamanya.

