Atasi Populasi Sapi Anjlok, Presiden Baru Harus Wujudkan Swasembada Daging
Oleh: Teguh Boediyana,
Ketua Umum Komite Pendayagunaan Pertanian
INVESTORTRUST.ID - Mulai Mei 2023, Badan Pusat Statistik (BPS) menyelenggarakan Statistik Pertanian, yang didukung dana APBN sekitar Rp 3,5 triliun. Hasilnya diterbitkan dalam Buklet Hasil Pencacahan Lengkap Sensus Pertanian 2023, pada 4 Desember 2023.
Dari hasil pencacahan itu, ada bagian yang mengejutkan para pemangku kepentingan dalam bidang peternakan sapi potong. Data populasi sapi potong (termasuk sapi perah) yang tercatat sebanyak 11,32 juta ekor mengejutkan. Pasalnya, populasi 11,32 juta ekor itu termasuk sapi perah, yang berarti populasi sapi potong kurang dari dari 11 juta ekor, atau diperkirakan hanya 10,8 juta ekor.
Juga, yang mengejutkan adalah hasil pencacahan kerbau. Populasi kerbau dari Sensus Pertanian 2023 hanya sebanyak 407,87 ribu ekor. Angka populasi sapi potong ataupun kerbau tersebut sangat jauh berbeda dengan data populasi yang selama ini dirilis oleh Kementerian Pertanian cq Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.
Kita tengok data populasi sapi potong dan kerbau yang dirilis Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dalamBuku Statistik Peternakan 2022. Disebutkan dalam buku itu, populasi sapi di tahun 2022 di Indonesia adalah18,61 juta ekor. Sedangkan populasi kerbau 1,17 juta ekor.
Logikanya, tahun 2023, populasi sapi potong maupun kerbau meningkat. Tetapi kenyataannya, berdasar hasil pencacahan Sensus Pertanian 2023 terdapat perbedaan luar biasa siginifikan. Selisih populasi sapi potong di tahun 2022 berdasarkan data Statistik Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan dengan hasil pencacahan sensus tahun 2023 mencapai sekitar 8 juta ekor.
Baca Juga
KPK Masih Telaah Laporan Dugaan Korupsi Pengadaan Sapi di Kementan
Demikian juga untuk populasi kerbau. Di tahun 2022, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan mengklaim populasi kerbau 1,17 juta ekor. Di tahun 2023 dari pencacahan Sensus Pertanian diperoleh angka 470.871 ekor.Artinya, terdapat selisih sekitar 700 ribu ekor.
10 Tahun Tanpa Kemajuan
Mari kita bandingkan lagi populasi sapi potong dan kerbau berdasarkan hasil Sensus Pertanian Tahun 2013. Pada tahun 2013, hasil pencacahan mencatat angka populasi sapi potong seluruh Indonesia 12,33 juta ekor. Sedangkan populasi kerbau 1,08 juta ekor.
Membandingkan hasil pencacahan dari Sensus Pertanian 2013 dan 2023, secara kasat dapat kita tangkap bahwa dalam kurun sepuluh tahun ini, tidak ada kemajuan dalam pembangunan peternakan sapi potong ataupun kerbau, malah kemunduran signifikan. Padahal, pemerintah telah mengeluarkan dana yang sangat besar melalui APBN, melalui berbagai program yang disusun oleh Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian. Ada slogan atau jargon yang sering didengungkan terkait upaya peningkatan populasi dan produksi daging sapi, seperti swasembada daging sapi dan kerbau, Sekolah Peternak Rakyat,Sikomandan (Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri), dan Upsus Siwab (upaya khusus percepatan peningkatan populasi sapi dan kerbau bunting).
Menjadi Angka Patokan
Selama ini, sering muncul banyak keraguan atas kebenaran atau akurasi data populasi sapi potong dan produksi daging sapi/kerbau yang dirilis oleh pemerintah. Kendati demikian, hasil Sensus Pertanian 2023 harus menjadi patokan atau tonggak kebenaran angka, karena diyakini sensus tersebut menggunakan metode yang lebih canggih, yang lebih bisa dipercaya hasilnya.
Walaupun terdapat perbedaan data atau angka dari hasil Sensus Pertanian 2023 yang dilaksanakan BPS dengan data yang yang dirilis oleh Kementerian Pertanian, pihak kementerian harus melihat hasil pencacahan sensus pertaniansebagai sesuatu yang positif, menuju terwujudnya Program Satu Data seperti yang diprogramkan oleh pemerintah melalui Perpres No 39 Tahun 2019. Terhitung mulai tahun 2024, data populasi sapi, kerbau, dan ternak yang lain harus menggunakan hasil sensus Pertanian 2023.
Tugas Berat Pemenang Pilpres 2024
Kitamencatat, program swasembada daging sapi sebenarnya telah lebih dari dua dekade ini dilaksanakan, sebagai salah satu yang menjadi prioritas pemerintah. Sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sampai saat ini, program swasembada daging sapi selalu menjadi prioritas dalam pengembangan peternakan sapi potong, khususnya di lingkungan Kementerian Pertanian. Dukungan APBN juga tidak tanggung-tanggung dikucurkan, untuk mencapai terwujudnya swasembada daging sapi.
Tampaknya, ke depan, program swasembada daging sapi masih akan tetap menjadi salah satu fokus dari pemerintah, sebagai wujud semangat untuk mengurangi impor daging sapi/kerbau. Data populasi baik sapi potong maupun kerbau dari Sensus Pertanian 2023 yang angkanya sangat jauh dibandingkan yang diklaim oleh Kementerian Pertanian cq Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, seolah telah membuka tabir dan menjawab mengapa angka impor daging sapi atau ruminansia besar sangat tinggi, dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
Secara khusus, Kementerian Pertanian harus melakukan evaluasi atas berbagai kebijakan dan program swasembada daging sapi ataupun pembinaan sapi potong dan kerbau yang selama ini dilaksanakan. Siapapun yang berhasil menjadi pemenang kontestasi Pilpres 2024 harus bekerja keras, apabila program swasembada daging sapi tetap menjadi salah satu prioritas dalam meneruskan program dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Baca Juga
Lapor ke Jokowi, Mentan Amran: Produksi Pangan Turun Jadi 30 Juta Ton dari 34 Juta Ton
Paling tidak, presiden terpilih nanti harus menugaskan menteri koordinator perekonomian dan instansi terkait seperti Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Badan Pangan Nasional, dan Badan Urusan Logistik untuk duduk bersama menghitung kembali berapa produksi daging sapi/kerbau dalam negeri dan berapa kebutuhan impor.
Selama ini, angka produksi daging sapi/kerbau dihitung dengan antara lain berdasarkan data populasi dari Kementerian Pertanian, yang ternyata sangat jauh dari hasil pencacahan populasi sapi dan kerbau dari Sensus Pertanian 2023 oleh Badan Pusat Statistik. Sangat jelas bahwa angka populasi sapi dan kerbau hasil pencacahan Sensus Pertanian 2023 menjadi indikasi bahwa tugas untuk mewujudkan swasembada daging sapi semakin berat, dan butuh waktu yang lebih panjang untuk merealisasikannya.
Dipastikan harapan Presiden Jokowi sewaktu berkunjung ke peternakan sapi di Rumpin Bogor pada Juni 2016, bahwa kita dapat swasembada daging sapi di tahun 2026, sepertinya hanya menjadi mimpi bila tidak ada keseriusan bekerja. Jika dibiarkan, impor daging sapi dan kerbau kelihatannya semakin terus meningkat, selaras dengan meningkatnya jumlah penduduk dan membaiknya perekonomian nasional, seiring bertambahnya masyarakat kelas menengah yang menjadi konsumen daging sapi. ***

