Mandiri: Masa Transisi Investasi Kondusif, Tak Terbitkan SBN Baru, MIND ID Bisa IPO
JAKARTA, investortrust.id – PT Mandiri Manajemen Investasi (Mandiri Investasi) memperkirakan iklim investasi pada semester kedua 2024 ini tetap kondusif, dan berpotensi memberikan peluang imbal hasil yang optimal bagi investor. Hal itu akan didukung adanya komitmen kuat dari pemerintahan Presiden Joko Widodo di masa transisi, dalam menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ini di antaranya menjaga defisit anggaran tidak melebihi dari 2,7% dari produk domestik bruto (PDB), serta tidak menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) baru, agar tidak menambah beban negara.
Begitu pula pada penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025, pemerintahan saat ini telah berkonsultasi dengan tim ekonomi Presiden Terpilih Prabowo Subianto. Sehingga, kondisi keuangan negara tahun depan diperkirakan mampu mendukung sejumlah program strategis pemerintahan baru.
Bahkan siang ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah resmi melantik Thomas Djiwandono menjadi wakil menteri keuangan (wamenkeu) II, mendampingi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Thomas merupakan anak mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) Soedradjad Djiwandono sekaligus keponakan Prabowo, yang selama ini menjadi politikus Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Posisi wamenkeu II merupakan tambahan jabatan wamenkeu yang diumumkan mendadak oleh Presiden Jokowi, begitu mendarat di Tanah Air dari kunjungan kenegaraan ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Kamis (18/7/2024).
Sementara itu, pada acara "Mandiri Investasi Market Outlook 2024", Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memiliki program jangka panjang untuk mendorong transformasi ekonomi di Indonesia, seperti renewable energy dan hilirisasi tambang. Kementerian BUMN telah menyiapkan roadmap jangka panjang yang memberikan arah bagi BUMN untuk dapat menjadi engine bagi transformasi ekonomi Indonesia sepuluh tahun ke depan, yang berfokus pada beberapa sektor-sektor utama seperti sektor digital, ekonomi hijau, infrastruktur dan social inclusion.
Selain itu, Kartika menyampaikan bahwa dalam lima tahun ke depan, selain Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Telkom Indonesia, dan Pertamina, diharapkan akan ada BUMN lain yang juga menjadi top company dunia. Sebagai contoh Pelindo Group, In Journey, dan MIND ID. Perusahaan-perusahaan dengan size menengah tersebut akan menjadi besar dan diharapkan suatu hari bisa melakukan IPO.
“Kita akan berfokus kepada BUMN yang punya significant size, kompetensi, serta future outlook yang baik untuk bisa dibawa ke capital market,” ujar Kartika dalam keterangan pada Kamis (18/7/2024) sore.
Baca Juga
Ekonom Paramadina Sebut Thomas Djiwandono Jadi Wamenkeu II demi Kawal RAPBN 2025
Bangun Ekosistem Investasi Global
Lebih lanjut, Wamen yang akrab disapa Tiko itu juga menyampaikan bahwa model investasi di BUMN tidak hanya melalui capital market. tetapi juga melalui private deals. Selain itu, bersama dengan Indonesia Investment Authority (INA), BUMN sedang membangun ekosistem investasi yang sifatnya private investments dengan global strategic investors.
Begitu pula di sektor perbankan, lanjut Tiko, Bank Mandiri memiliki komitmen dan tanggung jawab dalam memajukan dan menjaga kesinambungan industri keuangan secara jangka panjang. Khususnya di sektor pasar modal, Direktur Jaringan dan Retail Banking Bank Mandiri Aquarius Rudianto memaparkan pula, pihaknya melihat optimisme masyarakat terhadap outlook pasar saham dan obligasi di Indonesia. Dia meyakini produk reksa dana dan kontrak pengelolaan dana dapat tumbuh berkesinambungan.
Salah satu indikatornya adalah jumlah investor reksa dana naik signifikan mencapai angka 11,9 juta, sekitar 60%-nya adalah generasi muda. Karena itu Mandiri Group berkomitmen terus berinovasi dan berkolaborasi, dengan dimotori Mandiri Investasi sebagai perusahaan asset management yang memiliki pengalaman dan kompetensi.
"Mandiri Group akan mendorong Mandiri Investasi untuk dapat tumbuh berkelanjutan, menjaga kualitas pengelolaan produk investasi, sehingga dapat terus bersaing di level nasional maupun regional serta memberikan nilai tambah bagi investor," kata Aquarius.
Baca Juga
SRBI-SBN Sedot Dana Rp 1.351 Triliun, Mayoritas dari Dalam Negeri
Jaga Nilai Tukar Rupiah
Direktur Utama PT Mandiri Manajemen Investasi Aliyahdin Saugi memaparkan, pada acara Market Outlook 2024 yang bertema “Cruising the Crossroads on the Narrow Strait”, Mandiri Investasi menghadirkan pembicara-pembicara berkompeten yang memiliki pemahaman luas terhadap ekonomi makro dan investasi. Sejumlah pembicara yang diundang, di antaranya Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo, Ekonom Chatib Basri, Global Market Strategist JP Morgan Asset Management Raisah Rasid, Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI Riki Frindos, Managing Partner Verdhana Sekuritas Indonesia Heriyanto Irawan, serta Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto.
Menurut Adi (panggilan akrab Aliyahdin Saugi), tahun 2024, ekonomi dunia dipengaruhi beberapa isu global. Yang menjadi perhatian utama adalah perbedaan pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang lambat menurun, ditambah ketegangan geopolitik. Kondisi ekonomi global tersebut tentu memengaruhi kondisi ekonomi Indonesia. Namun, struktur ekonomi Indonesia telah mengalami banyak perkembangan, plus pemilu yang baru saja dilangsungkan berjalan damai yang menunjukkan kekuatan demokrasi Indonesia.
Indonesia juga mencatatkan surplus perdagangan selama 50 bulan berturut-turut, serta pertumbuhan PDB kuartal pertama 2024 masih terjaga di atas 5%. Dari sisi kebijakan fiskal, Indonesia mampu menggunakan anggaran secara disiplin dan dari sisi kebijakan moneter Bank Indonesia proaktif menjaga nilai tukar rupiah di tengah suku bunga AS yang masih tinggi.
Terkait investasi, Mandiri Investasi percaya dengan mempertimbangkan aspek Environmental, Social and Governance (ESG) dalam penyusunan portofolio investasi, investor dapat berperan penting dalam keberlanjutan dunia serta memberikan manfaat return yang menarik bagi investor. Melalui gelaran Market Outlook tersebut, lanjut Adi, investor dapat memperoleh pandangan luas terkait kondisi ekonomi global serta arah kebijakan dalam negeri, sehingga dapat membantu keputusan investasi di semester kedua 2024.
“Mandiri Investasi sebagai salah satu manajer investasi terbesar di Indonesia, yang juga merupakan bagian dari Mandiri Group, selalu berupaya memberikan solusi investasi yang prudent melalui produk-produk investasi dengan variasi yang lengkap dari reksa dana konvensional hingga produk investasi alternatif. Pada 18 Juli 2024, MMI juga meluncurkan produk baru Reksa Dana Mandiri ETF SRI-Kehati untuk menjadi tambahan pilihan investasi dengan memperhatikan faktor ESG. Kami berharap Mandiri Investasi dapat selalu menjadi partner terdepan dan terpercaya dalam perjalanan investasi,” papar Adi.

