Soal Harga Tiket Pesawat Mahal, Bos Garuda Bilang Begini
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk atau GIAA, Irfan Setiaputra memberi komentar soal harga tiket pesawat di Indonesia untuk penerbangan domestik lebih mahal dibandingkan penerbangan internasional. Dia menegaskan bahwa tiket penerbangan domestik Garuda Indonesia ke Padang lebih murah dibandingkan penerbangan internasional ke Singapura.
“Setelah kita lihat ada beberapa tekanan kita dengan harga tiket, ini kan menakjubkan ya, walaupun tadi barusan ada satu warga yang ngotot mau ke Padang kok lebih mahal daripada ke Singapura, ternyata yang dia lihat (airlines) di sebelah. Kita (Garuda) tetap lebih mahal ke Singapura daripada ke Padang ya,” kata Irfan Setiaputra di acara Media Gathering Kementerian BUMN yang dihadiri Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo serta sejumlah CEO BUMN dan pemimpin redaksi media massa nasional di Jakarta, Jumat (12/7/2024).
Irfan melanjutkan, tarif batas atas (TBA) penerbangan selalu jadi isu dan dia berterima kasih kepada Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo yang selalu fight terhadap isu TBA ini. “Tapi kita mesti berharap menteri baru untuk bisa dapat naikin harga tiket, tapi dengan harga yang sekarang ternyata kita bisa fine tune juga,” katanya.
Dia menjelaskan bahwa Garuda Indonesia berencana me-launching beberapa program. “Jadi ke Bali, bapak-ibu sekalian, sebaiknya Anda berangkat dari Minggu pulang hari Kamis. Jadi orang banyak mau ke Bali mau (tiket) murah, tapi maunya berangkat dari Jumat. Jumat ini kan mahal (harga tiketnya),” katanya.
Baca Juga
Sandiaga Sebut Satgas Penurunan Harga Tiket Pesawat Sudah Dibentuk
Menurut dia, penerbangan hari Minggu ke Bali selalu kosong. Sebaliknya, penerbangan dari Bali pada hari Minggu selalu penuh. “Ini kan penerbangan ke Bali kalau hari Minggu itu kayak (penerbangan) haji gitu kan. Karena (berangkat) kosong, pulang penuh,” ujar Irfan.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyiapkan langkah efisiensi penerbangan untuk menurunkan harga tiket pesawat, salah satunya terkait evaluasi operasi biaya pesawat.
“Kami menyiapkan beberapa langkah untuk efisiensi penerbangan dan penurunan harga tiket, misalnya evaluasi operasi biaya pesawat,” kata Luhut sebagaimana dikutip melalui akun instagram resminya, luhut.pandjaitan, yang dipantau dari Jakarta, Kamis (11/7/2024).
Luhut menjelaskan bahwa Cost Per Block Hour (CBH) yang merupakan komponen biaya operasi pesawat terbesar, perlu diidentifikasi rincian pembentukannya.
“Kami juga merumuskan strategi untuk mengurangi nilai CBH tersebut, berdasarkan jenis pesawat dan layanan penerbangan,” kata dia seperti dilansir Antara.
Baca Juga
Harga Tiket Pesawat Mahal, Bos Garuda: Penerbangan Rute Domestik Sudah Diturunkan
Selain itu, tutur Luhut melanjutkan, pemerintah juga berencana untuk mengakselerasi kebijakan pembebasan Bea Masuk dan pembukaan larangan dan pembatasan (lartas) barang impor tertentu untuk kebutuhan penerbangan.
“Di mana porsi perawatan berada di 16 persen porsi keseluruhan setelah avtur,” ucapnya.
Lebih lanjut, Luhut juga menyoroti mekanisme pengenaan tarif berdasarkan sektor rute, yang berimplikasi pada pengenaan dua kali tarif PPN, Iuran Wajib Jasa Raharja (IWJR), dan Passenger Service Charge (PSC), bagi penumpang yang melakukan transfer/ganti pesawat.
Menurut dia, mekanisme perhitungan tarif perlu disesuaikan berdasarkan biaya operasional maskapai per jam terbang, yang akan berdampak signifikan mengurangi beban biaya pada tiket penerbangan.
Baca Juga
Hal lain yang tidak kalah penting, lanjut dia, adalah evaluasi peran pendapatan kargo terhadap pendapatan perusahaan penerbangan yang seringkali luput dari perhatian.
“Ini bisa menjadi pertimbangan dalam menentukan harga Tarif Batas Atas (TBA). Pemerintah juga akan mengkaji peluang insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk beberapa destinasi prioritas,” kata Luhut.
Ia mengatakan bahwa seluruh langkah efisiensi tersebut akan dikomandoi langsung oleh Komite Supervisi Harga Tiket Angkutan Penerbangan Nasional.
“Mereka akan mengevaluasi secara detail harga tiket pesawat setiap bulannya,” kata Luhut.
Baca Juga
Pengamat Penerbangan Tekankan Pentingnya Revisi TBA Tiket Pesawat
Pernyataan tersebut ia sampaikan terkait dengan keluhan masyarakat terkait harga tiket penerbangan yang tinggi.
Berdasarkan data IATA, kata Luhut, pada 2024 ada 4,7 miliar penumpang global atau 200 juta penumpang lebih banyak daripada 2019.
“Dibandingkan dengan negara-negara ASEAN dan negara berpenduduk tinggi, harga tiket penerbangan Indonesia jadi yang termahal kedua setelah Brasil,” ucapnya.

