Inilah Perusahaan Keluarga yang Bangkrut dan yang Tetap Eksis
JAKARTA, investortrust.id – Perusahaan keluarga biasanya cenderung kurang transparan dan rawan konflik internal. Namun, tidak sedikit perusahaan keluarga yang dikelola oleh orang-orang profesional dan menerapkan good governance. Tidak mengherankan jika perusahaan tersebut mampu bertahan puluhan hingga ratusan tahun, bahkan kiprahnya mendunia.
Namun banyak pula perusahaan keluarga di level global yang akhirnya limbung dan bangkrut karena tidak dikelola dengan manajemen modern dan kurang adaptif terhadap perubahan.
PT Gudang Garam Tbk adalah salah satu contoh perusahaan keluarga yang tetap eksis dan berkinerja bagus. Pemiliknya bahkan pernah dalam suatu periode menempati jajaran orang terkaya di Indonesia. Perusahaan berusia 65 tahun dengan kepemilikan saham keluarga sebesar 76,2% itu meraih pendapatan US$ 9 miliar tahun lalu.
Di level global, CK Hutchison Holdings di Hong Kong termasuk perusahaan keluarga yang mampu bertahan. Berdiri sejak tahun 1828, alias sudah eksis selama 195 tahun, Hutchison mampu meraup pendapatan sebesar US$ 57 miliar. Beberapa contoh perusahaan keluarga yang tetap berkibar adalah Koch Industries (AS, berdiri 1940 dengan pendapatan US$ 125 miliar), George Weston (Kanada, 1882, US$ 43 miliar), dan Aditya Birla (India, 1857, pendapatan US$ 60 miliar).
Sementara itu, di jajaran perusahaan yang bangkrut setelah bertahan sekian lama, ada nama yang melegenda, yakni Lehman Brothers. Perusahaan yang berdiri pada 1850 ini bangkrut pada 2008, tapi menyeret ke banyak perusahaan keuangan di berbagai negara dan menimbulkan krisis finansial global pada tahun tersebut.
Beberapa perusahaan yang kolaps adalah The Blockbuster (AS), Bancroft Family (AS), Krupp Family (Jerman), Eaton Company (Kanada), dan Cadbury Family (Inggris).

