Erick Thohir: Pemerintahan Prabowo Lanjutkan Hilirisasi SDA
JAKARTA, investortrust.id - Menteri BUMN, Erick Thohir, mengatakan presiden terpilih Prabowo Subianto akan melanjutkan program hilirisasi sumber daya alam (SDA). Bahkan, Erick menyebut bahwa Prabowo sudah mulai mendorong lagi industrialisasi pangan agar Indonesia tidak selalu impor.
“Pak Prabowo sendiri sekarang sudah mulai mendorong lagi yang namanya industrialisasi pangan. Dan yang saya dorong juga, tidak kalah pentingnya ekonomi digital ataupun pariwisata. Ini yang saya rasa akan mendorong pertumbuhan kita lebih dari 5% ke depannya,” kata Erick saat ditemui di Komplek Gedung DPR, Rabu (11/7/2024).
Lebih lanjut Erick menjelaskan, salah satu langkah yang saat ini sedang ditempuh pemerintah untuk menjadikan Indonesia negara yang mandiri adalah dengan mendorong industrialisasi. Itulah mengapa Presiden Joko Widodo (Jokowi) menekankan pentingnya hilirisasi sumber daya alam.
Di sisi lain, Erick menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh hanya dijadikan pasar oleh negara-negara lain. Karena menurutnya, Indonesia sudah menjadi negara dengan ekonomi besar sehingga harus didorong dengan kerja sama yang saling menguntungkan.
Baca Juga
2 Hal Ini Dikhawatirkan Bakal Gerus Nilai Tambah Ekonomi Hilirisasi Nikel
Dikatakan oleh Erick bahwa produk domestik bruto (PDB) Indonesia di tahun 2029 diperkirakan mencapai US$ 3,3 triliun. Menurutnya, itu akan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.
“Saat ini (PDB Indonesia) juga terbesar (di Asia Tenggara), tapi nanti lebih besar lagi. Nah, kebayang tidak nanti kalau di 2045 ketika kita sudah menjadi negara ekonomi terbesar kelima dunia? Itu kan kita lebih besar lagi,” sebut Erick.
Maka dari itu, Erick tidak menginginkan kalau Indonesia hanya dijadikan pasar oleh para investor asing dan negara lain. Ia memandang bahwa Indonesia juga harus bisa menjadi mandiri di berbagai sektor, termasuk di antaranya swasembada pangan dan energi.
“Kita ini subur, masa gulanya impor terus. Sedangkan gula itu sekarang sudah bisa menjadi alternatif tidak hanya untuk konsumsi, tapi juga untuk kendaraan,” tegas pria 54 tahun tersebut.
Baca Juga
Bukan hanya itu, menurutnya para investor juga harus menaruh kepercayaan yang besar kepada Indonesia. Apalagi Indonesia punya PDB yang paling besar di Asia Tenggara, sehingga tidak ingin disamakan dengan negara-negara lain di kawasan.
“Yang saya tekankan, kalau para investasi asing atau investasi swasta, ataupun siapa yang investasi melihat market kita besar, ya kembali harus percaya sama Indonesia. Jangan investasi di Thailand satu, di kita satu. Itu salah. Di Thailand satu, di kita harus tiga,” terang dia.
