Laba Industri Makanan dan Minuman Diprediksi Tergerus di Kuartal II-2024, Ini Penjelasan Gapmmi
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi), Adhi S Lukman menyebut kinerja industri makanan dan minuman (mamin) masih akan mencatatkan pertumbuhan di kuartal II-2024. Hal itu seiring dengan permintaan atau demand yang diyakini masih tinggi. Namun demikian, profit atau keuntungan industri mamin diprediksi akan tergerus.
“Kuartal II itu yang tadi saya lihat, mungkin demand masih bisa tapi profit pasti akan tergerus gitu ya,” ucap Adhi saat ditemui di Gedung Kemenperin, Jakarta Selatan, Selasa (25/6/2024).
Prediksi terjadi penurunan profit tersebut disebutkan Adhi karena biaya atau ongkos yang terus melonjak, terutama untuk mengimpor bahan baku industri mamin.
Baca Juga
Gapmmi Beberkan Potensi Kenaikan Harga Makanan dan Minuman Imbas Konflik Iran-Israel
Menurut Adhi, hal tersebut disebabkan oleh pelemahan nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus terjadi beberapa waktu belakangan hingga saat ini. Ia menyebut faktor itu yang membuat industri makanan dan minuman semakin terbebani.
“Karena biaya-biaya naik. Bukan (hanya) biaya bahan baku saja, biaya logistik, biaya semua. Karena kita masih banyak tergantung dari dolar AS hingga tekanan impor,” terangnya.
“Masing-masing perusahaan beda-beda ya (tergerus profitnya). Perkiraan saya dengan depresiasi rupiah ini, untuk bahan baku saja yang tergantung dolar AS itu bisa sekitar 2% sampai 2,5% kenaikan harga produksinya,” tandas Adhi.
Diketahui, Adhi pun sempat menyebutkan kinerja ekspor makanan dan minuman olahan Indonesia masih baik, yakni mampu tumbuh sebesar 5% pada kuartal I-2024.

