Pemerintah Targetkan Ladang Gas Raksasa Blok Masela Beroperasi Mulai 2030
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan Lapangan Abadi Blok Masela akan memulai produksi atau onstream pada 2030 mendatang.
Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan Lapangan Abadi Blok Masela di Kepulauan Tanimbar, Maluku akan memulai produksinya pada 1 Januari 2030. "Tetap kita targetnya (berproduksi mulai) 1 Januari 2030," katanya ketika ditemui di Komplek Parlemen, Jakarta Pusat, Rabu (19/6/2024).
Dengan demikian, Lapangan Abadi Blok Masela akan melakukan pengiriman perdana gas alam cair atau liquified natural gas (LNG) pada kuartal I-2030.
PT Pertamina (Persero) sebagai salah satu pemegang hak partisipasi atau participating interest (PI) di Lapangan Abadi Blok Masela sebelumnya menyatakan bahwa ladang gas tersebut bisa beroperasi mulai 2029 atau lebih awal dari target yang disebutkan oleh Menteri ESDM.
Baca Juga
Menurut Arifin, target produksi Lapangan Abadi Blok Masela mau tidak mau diundur karena hengkangnya Shell Upstream Overseas Ltd. yang mundur dari konsorsium pengelolaan ladang gas tersebut. Hak partisipasi Shell sebesar 35% saat ini dipegang oleh PT Pertamina Hulu Energi (PHE) melalui anak usahanya PT Pertamina Hulu Energi Masela (PHE Masela) bermitra dengan PETRONAS Masela Sdn. Bhd.
Sebagai catatan, Shell memutuskan untuk hengkang dari konsorsium pengelolaan Lapangan Abadi Blok Masela pada 2020 meninggalkan Inpex Corporation yang mengantongi hak partisipasi sebesar 65%.
"Masalah mundurnya kan karena apa, offshore, onshore, satu. Kemudian sudah selesai itu mundurnya disebabkan ini lagi Shell mundur. Kemudian proses untuk pengalihan saham Shell itu butuh waktu kan," tambahnya.
Baca Juga
Blok Masela Resmi Lanjut, Segini Pendapatan yang Bisa Diraup Pemerintah
Lapangan Abadi di Blok Masela adalah lapangan gas laut dalam dengan cadangan gas terbesar di Indonesia yang terletak sekitar 160 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena di Laut Arafura dengan kedalaman laut 400-800 meter. Kontrak PSC Masela yang berlaku hingga 2055 berpotensi menghasilkan 9,5 MMTPA (juta metrik ton per tahun) LNG dan 150 MMSCFD (juta kaki kubik standar per hari) gas pipa. Selain itu, Lapangan Abadi diperkirakan dapat menghasilkan produksi kondensat sebesar 35,000 barel/hari.
Konsep pengembangan lapangan green field (lapangan migas baru) yang memiliki kompleksitas tinggi dan risiko besar mencakup pengeboran deepwater, fasilitas subsea, FPSO (Floating Production Storage and Offloading), dan onshore LNG plant. Selain itu pengembangan Lapangan Abadi Blok Masela ini juga berpotensi menyerap hingga 10.000 tenaga kerja.

