Industri Manufaktur Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Era Prabowo
JAKARTA, investortrust.id – Guru besar ekonomi yang juga peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Didik J Rachbini mengingatkan, sektor industri manufaktur memegang peranan sentral pada era pemerintahan Prabowo. Sektor ini bahkan menjadi kunci pemerintahan mendatang dalam mengejar pertumbuhan ekonomi di atas 6%.
“Ekonomi selama ini sulit tumbuh di atas 6% antara lain karena sektor industri manufaktur tumbuh di bawah 5% sehingga kurang punya daya dongkrak untuk mengangkat pertumbuhan ekonomi,” ujar Didik Rachbini dalam keterangan resmi yang diterima investortrust.id, Senin (17/6/2024) malam.
Sebagai perbadingan, menurut Didik, pertumbuhan ekonomi yang tinggi kini dinikmati Vietnam dan India. “Mengapa India dan Vietnam berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi tinggi? Jawabnya hanya satu, yakni karena mereka berhasil mendorong industri manufaktur sebagai lokomotif pertumbuhannya,” tegas dia.
Rektor Universitas Paramadina itu mengungkapkan, sektor industri manufaktur di India melesat dua digit sehingga mampu mengatrol perekonomian negara itu untuk tumbuh 7%. Sebaliknya, sektor industri Indonesia dalam dua dekade terakhir tumbuh rata-rata di bawah 5% sehingga sulit mendongkrak pertumbuhan ekonomi di atas 6%.
Didik Rachbini menjelaskan, ekonomi Indonesia sulit tumbuh di atas 5% dalam satu dekade terakhir karena bertumpu pada konsumsi dan sektor jasa, yang bercampur dengan sektor informal.
“Dengan sektor jasa yang tidak modern dan hanya mengandalkan konsumsi rumah tangga, ekonomi kita kehilangan lokomotifnya, yang pada gilirannya ekonomi bertumbuh rendah atau moderat saja,” papar dia.
Didik mengemukakan, janji kampanye Prabowo memacu pertumbuhan ekonomi sampai 8% hampir mustahil terealisasi jika pemerintahan mendatang tidak menempatkan sektor industri sebagai lokomotif perekonomian nasional.
Itu sebabnya, kata dia, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) harus punya strategi lebih jitu untuk memajukan sektor industri ke depan. Kebijakan lintas sektor atau antarkementerian dan lembaga (K/L) juga harus benar-benar difokuskan untuk mendukung sektor industri. “Jika tidak, Indonesia bisa-bisa cuma jadi underdog di ASEAN,” tutur dia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan (manufaktur) berkontribusi 18,67% terhadap total perekonomian Indonesia pada 2023. Sektor ini tumbuh 4,64% secara tahunan (year on year/yoy). Dengan kinerja tersebut, industri manufaktur berkontribusi 0,95% terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023 yang mencapai 5,05%.

