Bioetanol Mau Gantikan Pertalite? Ini Respons Pengamat Energi
JAKARTA, investortrust.id – Pengamat energi yang juga mantan Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Satya W. Yudha mengatakan, apabila Indonesia memang ingin menggantikan bauran bensin atau bahan bakar minyak (BBM) dari Pertalite ke Bioetanol maka harus memberdayakan banyak sumber. Tidak hanya dari molases, melainkan juga dari algae dan sumber lainnya.
“Maka pengembangan source-nya tidak hanya dari molases, tapi dari algae dan juga dari sumber-sumber yang lain. Supaya kita bisa memenuhi target etanol sebagaimana yang ada dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN),” kata Satya saat ditemui di sela acara “Investortrust Power Talk: Energy Series” di Perpustakaan Habibie & Ainun, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (13/6/2024).
Sebagai gambaran, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan Indonesia membutuhkan bioetanol sebanyak 2 juta kiloliter (KL) per tahun, jika pemerintah memutuskan untuk menerapkan bauran bahan bakar minyak (BBM) dengan bioetanol 5% (E5), yang merupakan calon pengganti Pertalite maupun Pertamax.
Baca Juga
Pemerintah Targetkan Batas Produksi Batu Bara RI Hanya 325 Juta Ton Tahun 2055
Kendati demikian, saat ini Indonesia hanya memiliki 2 pabrik yang mampu memproduksi bioetanol dengan kualitas bahan bakar (fuel grade) sebanyak 40.000 KL/tahun.
Meskipun Indonesia sudah memiliki 11 pabrik dengan kapasitas 400.000 KL/tahun, di mana 40.000 KL/tahun di antaranya merupakan bioetanol fuel grade dan sisanya dengan kualitas makanan (food grade).
“RUEN-nya kan berbicara berjuta kiloliter (per tahunnya). Sementara, kita sekarang ini capaian masih sekitar 46 ribu (KL/tahun) produksi bio etanolnya, kan kecil sekali dibanding dengan target yang ada di dalam Rencana Umum Energi Nasional,” ujar mantan Anggota DPR ini.
Mengenai rencana akuisisi PT Pertamina (Persero) terhadap salah satu perusahaan Brasil yang memproduksi bioetanol, Satya menyatakan, hal ini dapat menambah produksi bioetanol nasional.
“Kalau misalkan ada strategi akuisisi, itu otomatis menambah volume (produksi bioetanol). Kebutuhan daripada domestik harus didukung, karena itu sejalan dengan Rencana Umum Energi Nasional kita,” jelas dia.
Berdasarkan informasi yang diterima investortrust.id, Menteri ESDM Arifin Tasrif telah menanggapi soal rencana PT Pertamina (Persero) mengubah produk subsidi mereka dari bahan bakar minyak (BBM) dengan oktan paling rendah RON 90, yakni Pertalite, ke tingkat oktan yang lebih tinggi.
Baca Juga
Sumber Daya Batu Bara Indonesia 97,29 Miliar Ton, Apa Yang Bakal Dilakukan Pemerintah?
Diwacanakan bahwa Pertamina akan menjadikan BBM dengan kualitas yang lebih tinggi seperti Pertamax (RON 92), Pertamax Turbo (RON 98), dan produk baru BBM bioetanol Pertamax Green 95 (RON 95) sebagai Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) pada tahun 2027 mendatang.
Menanggapi hal ini, Arifin Tasrif mengatakan, untuk bisa mewujudkan hal tersebut maka Indonesia mesti bisa memproduksi etanol terlebih dahulu. Etanol inilah yang akan digunakan sebagai bahan baku untuk bioetanol.
“Iya etanolnya dulu harus kita bikin. Etanol ini kita bisa bikin sendiri,” ujar Arifin.
Baca Juga
IMA: Potensi Pasar Batu bara Meredup, CCS dan CCUS Jadi Mahal
Rencana Pertamina untuk mengubah produk subsidi mereka menjadi bioetanol juga mendapat sambutan positif dari Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).
Sementara itu, Anggota BPH Migas Saleh Abdurrahman menilai, sudah seharusnya subsidi diberikan ke jenis BBM yang lebih berkualitas. Namun, ia memberi catatan pemerintah juga perlu memastikan adanya kepastian pasokan bahan baku bioetanol di hulu untuk keberlanjutan BBM berkualitas tinggi tersebut.
“Kalau memang (diterapkan) itu kebijakan itu bagus. Artinya kalau itu mau dijadikan JBKP pengganti Pertalite juga bagus, tapi kan pemerintah perlu mempertimbangkan harga, kesiapan infrastruktur dalam negeri, bioetanol-nya terutama, kan (kandungannya sampai) 5%-7%,” terang dia.

