KKP Blak-blakan Ungkap Penyebab Ikan Indonesia Sulit Tembus Pasar Eropa
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (BPPMHKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Ishartini mengungkapkan penyebab sulitnya ikan Indonesia menembus pasar Uni Eropa. Salah satunya terkait mutu ikan.
"Kita lihat dari tren penolakan karena mutu itu tidak terlalu besar, di bawah 1%, biasanya itu hanya karena kelebihan kandungan logam berat," kata Ishartini dalam konferensi pers di Gedung KKP, Jakarta, Kamis (13/6/2024).
Baca Juga
Menteri Trenggono Targetkan Produksi Perikanan Capai 24,58 Juta Ton pada 2025
Ishartini menjelaskan, Uni Eropa memiliki persyaratan yang ketat terhadap produk perikanan yang diimpornya. Syarat tersebut di antaranya kewajiban adanya penelusuran aktivitas dan pencatatan yang dilakukan terhadap pergerakan setiap bahan baku atau produk.
"Kalau mutu kan sudah banyak dipenuhi unit pengolahan ikan. Nah, permasalahannya tidak saja mutu di akhir, tetapi juga persyaratan traceability awal bahan baku. Jadi, asal bahan baku itu di-trace," terang Ishartini.
Hal itulah, menurut Ishartini, yang harus dibuktikan para eksportir perikanan Indonesia bahwa bahan baku diperoleh dari kapal yang sudah bersertifikat, didistribusikan pemasok (supplier) bersertifikat, dan diolah unit pengolahan ikan yang juga sudah memiliki sertifikat.
Anak buah Menteri KP, Sakti Wahyu Trenggono ini mengakui, masih banyak permasalahan yang harus dibenahi, khususnya terkait mutu perikanan dalam negeri jika ingin mengicar pasar internasional.
Baca Juga
Menteri Trenggono Pastikan Tak Pandang Bulu Berantas Penangkapan Ikan Ilegal
"Jadi, mudah-mudahan kita bisa menembus lebih besar lagi ke Uni Eropa dengan menambah jumlah perusahaan atau unit pengolahan ikan yang bisa mengekspor ke sana," tandas Ishartini.
Menteri Kelautan dan Perikanan (KP), Sakti Wahyu Trenggono sebelumnya menyebutkan, nilai ekspor hasil perikanan hingga kuartal I-2024 mencapai US$ 1,45 miliar atau setara Rp 23,6 triliun.

