Tak Ada Jalan Pintas!
JAKARTA, investortrust.id - Tak ada jalan pintas untuk meraih kesuksesan! Ada proses yang harus dijalani. Kesuksesan hanya bisa dicapai lewat jalan panjang, berliku, dan mendaki. Tidak serta-merta. Tidak ujug-ujug.
Bahkan anak pengusaha seperti Alhadiid sekalipun harus berdarah-darah dulu sebelum menerima tongkat estafet Chief Executive Officer (CEO) PT Algas Mitra Sejati (Algas) dari ayahnya, Pulung Bimantoro.
“Pesan saya untuk para Zilenial, tidak ada jalan pintas untuk meraih untung secara cepat. Ada proses yang harus dijalani. Tentunya harus berdarah-darah dulu. Nikmati aja prosesnya,” kata Alhadiid dalam podcast Konvergensi bertajuk "Jargas Solusi Paling Pas" yang dipandu CEO PT Investortrust Indonesia Sejahtera, Primus Dorimulu di gedung The Convergence Indonesia (TCI) kawasan Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta, baru-baru ini.
Algas adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri migas sebagai perakit dan rekayasa metering regulating stations (MRS) dan pressure regulating stations (PRS), instalasi konstruksi pipa, serta distributor berbagai produk meteran gas yang diproduksi pabrikan global, dari mulai Gascat, Vemmtec, Meccanica Segrino, Recgas, Gnalia Bocia, Zenner, hingga SBV Beta Valve.
Alhadiid menerima amanah dari ayahnya pada Agustus 2015, saat ia berusia 25 tahun. Pria kelahiran Jakarta, 31 Oktober 1990 ini sempat stres berat pada masa-masa awalnya di Algas.
“Pada tahun pertama, saya selalu pulang kerja jam 10 malam, jam 11 malam. Begitu datang, saya tidak langsung menjadi CEO. Saya terjun ke lapangan, pegang kunci, ngencengin baut,” tutur dia.
Alhadiid memang tak bisa langsung nyambung. Maklum, selain minim pengalaman, bidang yang digelutinya pun sama sekali berbeda dengan latar belakang akademisnya sebagai insinyur teknik sipil dan master of science bidang teknologi rekayasa lingkungan.
“Tahun pertama saya harus belajar cepat. Baru pada tahun kedua, saya ditunjuk menjadi chief operating officer (COO),” ujar Alhadiid.
Apa saja kunci sukses Alhadiid hingga ia mampu menjalankan perusahaan yang didirikan ayahnya? Bagaimana ia mengatasi berbagai kesulitan yang dihadapinya? Apa pula obsesinya yang belum tercapai? Berikut penuturan lengkapnya:
Bisa cerita tentang perusahaan yang Anda pimpin?
PT Algas Mitra Sejati (Algas) didirikan pada 2005. Algas merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri minyak dan gas bumi (migas), sebagai perakit dan rekayasa metering regulating stations (MRS) dan pressure regulating stations (PRS), instalasi konstruksi pipa, serta distributor berbagai produk meteran gas yang diproduksi Gascat, Vemmtec, Meccanica Segrino, Recgas, Gnalia Bocia, Zenner, dan SBV Beta Valve.
Algas mendukung penggunaan energi bersih dan berkelanjutan di Indonesia untuk semua sektor. Kami juga berkomitmen merancang atau memproduksi MRS dan PRS, serta berbagai produk lainnya secara efisien dan berkualitas tinggi, serta memberikan layanan purna jual kepada pelanggan.
Core business Algas?
Algas fokus memproduksi gas MRS, meteran yang menghubungkan pipa dengan kebutuhan industri atau komersial. Algas juga memberikan solusi lengkap atas kebutuhan metering gas. Jadi, core business kami adalah perakit, prekayasa, atau sistem integrator untuk alat ukur migas.
Analoginya, listrik itu kan sebelum masuk ke rumah-rumah ada meterannya, meteran listrik. Sebelum masuk ke meteran listrik itu ada gardunya. Nah, gardu ini akan membawahkan beberapa rumah. Di gasjuga seperti itu, sama.
Perjalanan bisnis Algas?
Setelah didirikan pada 2005 di Jakarta,setahun kemudian atau pada 2006-2007 Algas memenangi kontrak metering regulation station di PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk (PGAS) untuk pengiriman 164 unit per tahun. Kami joint venture dengan Vemmtec dan PT Duta Instrumen Alfa Sakti.
Pada 2012, Algas menerima Surat Keterangan Terdaftar (SKT) Perakit Perekayasa dari Ditjen Migas Kementerian ESDM. Lalu pada 2014 kami mendapatkan proyek penyediaan metering regulating station untuk Direktorat Gas Pertamina bagi proyek CNG Station. Kemudian pada 2016, 500 unit MRS Algas terpasang di seluruh Indonesia. Selanjutnya pada 2020, sekitar 900 unit MRS, MS, PRS, dan RS Algas terpasang di seluruh Indonesia. Kami lanjut sampai sekarang.
Target Anda ke depan?
Dalam satu hingga dua tahun ke depan, kamimencanangkan Algas menjadi perusahaan besar.
Siapa saja mitra Algas?
Mitra kami di antaranya PT Pertamina (Persero), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), Pertagas, ada juga beberapa perusahaan trader migas yang kami supply. Di swasta ada Energasindo Heksa Karya, PT Rukun Raharja Tbk, dan perusahaan lainnya.
Posisi Algas dalam mata rantai pemasok energi ada di mana?
Kami ada di pelanggan. Kalau klien kami, seperti PGN kan bergerak di bidang infrastruktur gas bumi. Dia membawa gas dari sumur-sumur gas, dari sumber, diolah dulu menjadi gas yang siap pakai, lalu transmisi, dialirkan ke kota-kota. Dari kota-kota baru dialirkan ke pelanggan.
Peran kami itu di pelanggan, lebih ke pelanggan, ke distribusi, lebih ke hilir. Jadi, sebelum gas masuk ke pelanggan harus ada yang namanya meter dulu, metering. Istilahnya gardunya. Kami merakit dan mengintegrasikan gardunya ini, kami fabrikasi gardunya, gardu untuk gas bumi, namanya metering regulating station atau MRS.
Ada meternya di situ, ada meter gas, ada regulator gas, ada filtering gasnya juga supaya gasnya bersih sebelum masuk ke pabrik. Jadi, dalam satu sistem itu ada metering, ada regulating, ada filtering. Kamimerakit dan memfabrikasi alat ini. Sebelum masuk ke pabrik harus dipasang alat itu.
Kandungan lokal produk Algas?
Tingkat komponen dalam negeri (TKDN) produk kami di angka 40%. Spare part-nya masih impor. Seperti meter,itu masih diimpor dari Jerman,regulator diimpor dari Brasil. Ada beberapa part juga yangmasih diimpor dari China.
Tetapiuntuk merakit dari part-part itu menjadi sebuah barang jadi dibutuhkan tenaga-tenaga kerja Indonesia. Tukang-tukang lasnya dari Indonesia, pipanya pun kami ambil dari Indonesia, misalnya dari PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Jadi, lumayan, TKDN kami sudah 40%.
Size-nya macam-macam. Metering itu banyak size-nya, dari yang terkecil untuk rumah tangga. Gas yang masuk ke rumah tangga untuk menggantikan LPG itu ada yang paling kecil, seperti meter listrik. Sedangkanyang paling besar, kamipernah membuat satu kontainer 40 feet untuk metering ke pabrik keramik, ke pembangkit listrik, dan lain-lain.
Klien Anda lebih banyak korporasi atau rumah tangga?
Rumah tangga juga masih jalan. Pak Presiden Jokowi kan punya program Jaringan Gas Bumi untuk Rumah Tangga (Jargas) sampai 2024-2025. Beliau sudah mencanangkan 2,5 juta jaringan baru untuk rumah tangga. Salah satu tujuannya adalahuntuk mengurangi beban subsidi LPG yang luar biasa besar dan impor LPG. Untuk mengurangi subsidi dan impor,dibangunlah Jargasdi berbagai kota di Indonesia.
Kami bergerak di situ, kami supply meter gasnya, kami supply regulator gasnya, dan kami juga bisa masuk kekonstruksi pipa gasnya.
Jargas sudah masuk ke Jabodetabek. Di Sumatera, Jargas sudah ada di Medan, Aceh, Palembang, Prabumulih, di Pekanbaru juga ada. Di Kalimantan pun rencananya akan dibangun, terutama di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Alhamdulillah kemarin kami dapat beberapa kontrak untuk membangun jaringan pipa gas di IKN. Masih baru, sehingga masih gampang, belum banyak utilitasnya.
Dari sisi security bagaimana?
Sangat-sangat aman karena gas pipa itu berbeda dengan LPG. Kalau LPG kan berat jenisnya lebih berat dari udara sekitar, sehingga kalau LPG bocor dia akan stay di ruangan jika ruangan itu tidak ada ventilasinya.
Tapi kalau gas bumi, begitu bocor, dia akan terbang karena berat jenisnya lebih ringan dari udara, akan cari ventilasi terdekat. Jadi, sangat-sangat aman, kalau bocor pun segera terbang. Sampai saat ini sangat jarang kasus jaringan gas meledak di rumah tangga, bahkan setahu saya nggak pernah ada.
Dari sisi demand pasti besar, bagaimana dari sisi supply?
Kalau pasokan alhamdulillah PGN baru menyelesaikan beberapa lapangan gas. Pemerintah juga sedang membangun jaringan pipa transmisi baru dari Cirebon ke Semarang untuk menyambungkan jaringan gas bagian barat Jawa dengan bagian timur Jawa.
Saya harap ketika itu sudah jadi, pengembangan gas bumi di industri-industri dan di rumah tangga lebih besar lagi. Mudah-mudahan ke depan makin banyak lagi sumur baru yang ditemukan di Indonesia sehingga kita tidak perlu impor.
Produksi gas di dalam negeri sudah over supply atau under supply?
Sudah oversupply. Makanya dijadikan liquefied natural gas (LNG) untuk diekspor ke China.
Artinya program Jargas mestinya bisa diakselerasi?
Harusnya bisa diakselerasi.
Persoalannya ada di mana?
Di budget. Sampai 2021, pengembangan Jargas masih memakai budget dari APBN lewat Ditjen Migas Kementerian ESDM. Lalu mulai 2021 sampai sekarang tidak lagi dipegang Kementerian ESDM, tetapi oleh PGN, lewat anggaran PGN. Tentunya sebagai perusahaan BUMN yang ditunjuk pemerintah, PGN harus menjalani ini sebagai penugasan.
Kalkulasi bisnisnya seperti apa?
Kalau kita bicara berdasarkan kacamata perusahaan gas, proyek Jargas ini bukan project yang untung secara short term. Mungkin break even point (BEP)-nya bisa 20 tahun, 15 tahun. Tidak langsung untung. Beda dengan jual ke pabrik, jual ke pembangkit listrik, itu lebih cepat BEP-nya.
Kalau dijual ke rumah tangga, karena harganya murah, secara bisnis sebetulnya tidak begitu menarik. Tapi karena mereka BUMN, ada penugasan dari pemerintah, mau tidak mau harus dilakukan. Itu mungkin yang membuat investasi PGN agak sedikit terhambat. Tetapi sampai sekarang masih jalan, tiap tahun 30-40 ribu sambungan masih terpasang.
Cara Algas mendapatkan proyek?
Kami mencapatkan proyek by project. Misalnya ketika PGN ada proyek baru, ingin membangun suatu jaringan di suatu kawasan industri, mereka akan lakukan tender untuk kontraktornya, untuk pengadaan metering-nya, untuk pengadaan alat-alatnya. Kami ikut tender.
Di industri kami kompetitornya lumayan, lumayan kompetitif. Tapi kalau untuk di bidang fabrikasi metering gas nggak begitu banyak, berkisar 10-20 perusahaan.
Artinya dunia gas ini sangat sempit, kami nggakbisa cari musuh. Oke bersaing di tender, tapi selepas itu kami tetap berteman, tetap berkawan, tetap menjaga hubungan baik. Barangkali di sini kalah, di tempat lain bisa menang. Bahkan kami pun bisa join.
Berapa target omzet dalam 1-2 tahun ke depan?
Sekarang omzet kami sekitar Rp 70 miliar per tahun. Target kami di atasRp 100 miliar. Kalau Rp 100 miliar sudah masuk korporasi.
Peluang untuk mencapai target tersebut?
Peluangnya masih besar. Saya yakin tahun ini kamibisa mencapai itu. Masuk kuartal II-2024,kami sudah melebihi 50% target.
Berdasarkan pengalaman Anda, apakah proses tender di BUMN sudah profesional?
Yang kami rasakan sangat fair. Pemilihan para mitra mereka juga transaparan. PGN, misalnya, punya yang namanya CSMS (Contractor Safety Management System). Syaratnya sangat ketat untuk menjadi kontraktor mitra PGN, harus melalui sebuah proses yang sangat panjang, terutama di bidang safety-nya.
Industri gas ini kan industri yang berisiko tinggi, high risk. Maka secara safety harus benar-benar paripurna. Ini yang menjadi barrier of entry-nya. PGN sangat fair dalam pemilihan mitra. Bukan hanya masalah safety, tapi juga delivery time. Berapa lama bisa supply ini barang? Kalau melebihi jangka waktu yang mereka inginkan, ya tidak bisa. Begitu pula dari sisi harga.
Visi Anda mengenai energi bersih?
Kami akan terus berusaha semaksimal mungkin untuk support bisnis PGN, bisnis Pertamina, terutama di bidang gas bumi karena gas bumi ini memegang peranan penting dalam transisi energi, dari energi fosil ke energi baru dan terbarukan (EBT), menuju target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Menurut Anda, gas adalah pilihan paling tepat untuk transisi energi menuju EBT?
Paling tepat. Secara cost pun, gas merupakan energitermurah kedua atau setelah batu bara. Hanya US$ 7,4 per mmbtu. Yang paling murah masih batu bara, sekitar US$ 5. Gas sudah murah, secara karbon juga lebih bersih. Gas itu sangat ideal untuk dijadikan sebagai transisi energi menuju NZE. Sebelum ke fully renewable energy, gas dulu deh.
Anda juga menerapkan energi bersih di internal perusahaan?
Kami adalah perusahaan yang bergerak di bidang energi, energi bersih. Tentunya kami harus ramah lingkungan juga. Beberapa alat yang kami gunakan merupakan alat-alat hemat energi. Misalnya kami menggunakan cat yang ramah lingkungan, untuk di metering juga.
Algas perusahaan keluarga?
Saya melanjutkan bisnis keluarga. Saya mulai take over pada Agustus 2015. Perusahaan kami masih kelas menengah, menjelang besar. Ini tidak lagi tergolong startup. Usianya sudah hampir hampir 20 tahun.
Alasan Anda meneruskan perusahaan orang tua?
Pada 2015, saya menjelang finish studi S2 di Muenchen, Jerman. Saya kuliah dua tahun di sana, ambil S2 Master of Science, bidang Teknologi Rekayasa Lingkungan di Technical University of Munich Jerman atau Technische Universität München (TUM), setelah lulus kuliah S1 Teknik Sipil di Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo.
Alhamdulillah hubungan saya sangat baik dengan ayah. Saya waktu itu mendapat kabar bahwa ayah saya sakit keras dan tidak bisa melanjutkan lagi perusahaan. Sebenarnya kalau saya mau ngikutin keinginan saya pribadi, saya ingin di Jerman dulu, sampai tiga atau lima tahun, bekerja ikut orang. Cari euro, cari pengalaman. Lalu setelah lima tahun pulang, lanjutkan perusahaan keluarga.
Mau nggak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, sayaharus melanjutkan perusahaan ini. Sebab ada 50 orang karyawan, 50 keluarga, yang harus kami jamin ke depan seperti apa mereka. Kalau bukan saya, siapa lagi? Saya anak laki-laki pertama, anak sulung. Di keluarga ya mau nggak mau harus siap untuk melanjutkan.
Kesan Anda pertama kali memimpin Algas?
Tahun pertama sangat berat. Saya waktu itu baru berusia 25 tahun. Pada tahun pertama, saya selalu pulang kerja jam 10 malam, jam 11 malam. Begitu datang, saya tidak langsung menjadi chief executive officer (CEO). Tetap ada beberapa top level di company yang masih menjalankan kegiatan bisnis. Bertahap, tahun pertama saya masih belajar. Alhamdulillah pada tahun kedua saya sudah bisa jadi chief operating officer (COO).
Seperti apa tingkat kesulitannya?
Dunia yang saya geluti ini ternyata jauh berbeda dengan latar belakang pendidikan saya. Saya kan tadinya mendalami sipil dan teknik lingkungan, lalu sekarang di bidang migas, lebih banyak ke mechanical.
Apa kuncinya?
Yang paling penting adalah cepat belajar, cepat beradaptasi, harus menjadi fast learner. Bagaimana caranya dengan sekali dua kali aja ketemu orang udah bisa nangkep. Makanya pada tahun-tahun pertama saya selalu pulang malam. Saya belajar gimana secara praktik dansecara teorinya seperti apa. Saya juga ikut ke lapangan.
Sebagai anak pemilik perusahaan, Anda bisa langsung berinteraksi dengan para karyawan?
Walaupun di situ anak bos, saya nggak segan untuk turun ke lapangan. Saya pegang kunci, ngencengin baut, nggakmasalah karena saya ingindapat hands on experience di lapangan seperti apa. Saya ingin merasakan seperti apa bekerja di lapangan.
Tingkat kesulitan paling tinggi?
Memang tantangannya adalah menjaga, menjaga kualitas, menjaga kualitas kami, menjaga kualitas servis kami. Di Algas itu nomor satu adalah kualitas servis. Kualitas servis after sales juga harus kami jaga, sebab berjualan produk kami tidak seperti berjualan barang kelontong. Yang kami jual adalah barang yang tidak bisa ditinggal begitu saja. Tetap ada after sales service-nya.
Itu yang dilihat customer. Oh, Algas cepat, nih. Oh, Algas kooperatif nih, responsnya cepat. Ketika dipanggil, Algas cepat. Itu yang menjadi pertimbangan para klien untuk bermitra dengan kami. MisalnyaPGN. Oh, Algas kooperatif, nih. Makanya kamidiundang lagi untuk tender, untuk project-project berikutnya.
Itu tantangannya, menjaga level kualitas. Pemahaman ini harus dimiliki semua karyawan kami, dari top level sampai level terbawah. Kadang-kadang manajemen oke, manajemen mampu menjaga itu, tetapidi level karyawan tidak bisa, stafnya cuek-cuek aja. Semua level harus mempunyai pemahaman yang sama terhadap visi-misi Algas.
Algas pasti pernah mengalami krisis, terutama krisis finansial. Bagaimana Anda mengatasinya?
Kami beberapa kali mengalami krisis finansial. Biasanya itu terjadi akibat mismatch pemasukan dan pengeluaran. Tiap tahun hampir mengalami itu. Cuma, alhamdulillah, kami berhasil mengatasinya.
Itu karena kami juga di-support oleh beberapa institusi finansial, seperti bank. Kami pun bermitra dengan beberapa bank BUMN untuk mendapatkan kredit modal kerja dan lain-lain. Jadi, alhamdulillah tidak sampai berdarah-darah banget.
Di situlah tugas saya sebagai CEO, tugas saya sebagai direktur, bagaimana memastikan perusahaan initetap punya duit terus. Nggak boleh kehabisan duit. Menjaga likuiditas. Cash is king. Apalagi tukang kami di lapangan itu kan gajinya harian. Kerja hari ini dibayar hari ini.
Krisis manajemen juga pernah?
Di awal-awal, perusahaan ini bisa dibilang seperti perusahaan one man show. Dari orang tua, ini seperti one man show. Segala macam dipegang. Dari sales, service, engineering, semua dipegang.
Jadi, orang tua saya tuh superman, nih. Ketika beliau tidak bisa melanjutkan lagi, tidak bisa day to day lagi, masalah muncul. Middle management-nya seperti anak ayam kehilangan induk. Mereka nggak tahu apa yang harus diperbuat.
Tidak bisa autopilot. Belum bisa autopilot. Inilah tantangan saya, bagaimana mendidik middle management agar bisa menjadi pengambil keputusan. Kami latih mereka bagaimana bisa mengambil risiko. Tentunya dengan memperhatikan plus minus yang ada. Alhamdulillah sampai sekarang kami bisa membimbing mereka. Alhamdulillah sekarang bisa semi autopilot.
Tapi, walaupun se-autopilot-autopilot-nya, owner atau CEO tetap harus kontrol. Karena kami kan tidak tahu, kami juga berhadapan dengan manusia.
Apa yang Anda pelajari dari Jerman, selain ilmu akademis?
Saya punya teman dari berbagai negara, tidak hanya dari Jerman aja. Di situ saya banyak belajar, misalnya tentang toleransi. Saya di sana kan minoritas. Saya belajar bagaimana memiliki lebih banyak empati tentang orang lain yangberbeda dengan kita. Tidak semua orang memiliki pola pikir yang sama dengan kita.
Kita harus belajar menerima dan beradaptasi dengan perbedaan itu. Saya harus bisa menghadapi berbagai macam karakter orang, dari budaya yang berbeda. Jadi, interpersonal skill itu lebih banyak saya pakai sekarang di dunia kerja dibandingkan akademik atau teknikal.
Anda menginginkan Algas ke depanseperti apa?
Saya akan tetap mempertahankan core business Algas di bidang energi.
Obsesi Anda yang belum tercapai?
Insyaallah ke depan saya masih punya impian yang sama ketika saya berangkat kuliah di Jerman. Saya ingin punya perusahaan renewable energy, renewable energy developer, sebagaipengembang PV solar panel, pengembang wind energy, hydro power, dan lain-lain.
Artinya masih di bidang energi?
Masih energi, tapi energi yang lebih bersih, yang lebih renewable, energi ramah lingkungan. Mudah-mudahan Algas menjadi batu loncatan yang tepat.
Ada rencana go public?
Saya sempat ngobrol dengan kawan-kawan tentang plus minus menjadi listed company. Untuk saat ini, Algas belum direncanakan go public. Saya juga sudah konsultasi dengan orang tua, katanya jangan dulu. Kami kembangin dulu sebagai perusahaan keluarga. Tapi saya tidak tahu mungkin lima tahun atau 10 tahun ke depan, ketika skalanya membesar terus, why not? Insyaallah ke depan sih tidak menutup kemungkinan bisa go public.
Pesan Anda kepada para Zilenial dan calon CEO?
Pesan saya untuk para Zilenial, nikmati aja prosesnya. Tidak ada jalan pintas, untuk meraih untung secara cepat. Ada proses yang harus dijalani. Tentunya kita harus berdarah-darah dulu. Kita harus belajar cepat.Nikmati prosesnya, nikmati semua, naik turun, itu harus dinikmati.
Kita harus serius di satu bidang. Temukan satu bidang, seriusin, tekuni.Become an expert di bidang itu, become a master di bidang itu. Insyaallah kamu akan dicari orang untuk mengembangkan diri kamu seterusnya.
Dan, jangan lupa, setiap orang punya privilege masing-masing. Sekarang banyak nih Zilenial yang suka nyinyirin. Ah, terang aja itu keluarganya si Anu, kaya kan? Kaya dari lahir. Terang aja bisa, bapaknya udah kaya, kok.
Nah, saya yakin teman-teman punya privilege masing-masing. Teman-teman masih hidup besok pagi pun itu sebuah privilege. Masih bisa naik motor, itu juga privilege. Masih bisa naik mobil, itu sebuah privilege. Jadi, setiap orang punya privilege masing-masing. Kita dilahirkan dengan itu. Kita nggak bisa memilih.
Sekarang masalahnya tinggal bagaimana kita memanfaatkan privilege yang kita punya untuk mengembangkan diri lebih lanjut lagi. Kembangkan network kalian. Kita nggak tahu rezeki akan datang dari mana. Jadi, banyakin teman-teman kalian, banyakin pergaulan, banyakin kawan-kawan. Insyaallah kita akan sukses bareng-bareng.
Satu lagi, selalu lihat sisi baik dari segala macam peristiwa. Sudut pandang kita dalam memandang sesuatu juga bisa menentukan kita bahagia ataunggak. ***
Biodata
Nama lengkap: Alhadiid.
Tempat/tanggal lahir: Jakarta, 31 Oktober 1990.
Pendidikan:
S1 Teknik Sipil UNS.
S2 (Master of Science) bidang Teknologi Rekayasa Lingkungan, Technical University of Munich Jerman.
Lain-lain:
Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jakarta Timur.
Aktif di Yayasan Alhadiid Center yang didirikan untuk membantu sosial ekonomi masyarakat.

