Merger XL Axiata (EXCL) dan Smartfren (FREN), Bagaimana Nasib Pekerja?
JAKARTA, investortrust.id - Rencana merger PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) memunculkan berbagai pertanyaan, termasuk nasib para pekerja. Apakah aksi ini bisa berimbas terhadap pemutusan hubungan kerja (PHK) pekerja dua operator seluler?
Seperti diketahui, pemegang saham pengendali kedua operator seluler, Axiata Group Bhd dan Grup Sinar Mas telah menjajaki rencana aksi korporasi itu. Penjajakan tersebut disepakati lewat penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dilakukan, Rabu (15/5/2024) oleh Axiata Group Bhd, PT Wahana Inti Nusantara (WIN), PT Global Nusa Data (GND), dan PT Bali Media Telekomunikasi (BMT). WIN, GND, dan BMT merupakan entitas bisnis yang mewakili Grup Sinar Mas.
Baca Juga
XL Axiata (EXCL) dan Smartfren (FREN) Merger Jadi MergeCo? Begini Faktanya
Berkaca pada merger operator telekomunikasi sebelumnya, yakni PT Indosat Ooredoo Tbk (ISAT) dengan PT Hutchison 3 Indonesia (Tri), PHK tak bisa terelakkan. Usai merger, operator telekomunikasi yang bergabung menjadi Indosat Ooredoo Hutchison itu diketahui merumahkan 300 pekerjanya dengan dalih efisiensi.
Hal yang sama juga terjadi Ketika XL Axiata mengakuisisi PT Axis Telekom Indonesia (Axis) pada 2014. Sebelum aksi korporasi dilakukan, Axis diketahui melakukan PHK ke sejumlah pekerjanya, tak terkecuali pemegang posisi tinggi di perusahaan.
Terkait dampak merger terhadap pekerja, Presiden Direktur Smartfren Merza Fachys menyebut, sejauh ini, belum ada rencana apapun terkait rencana merger dengan XL Axiata. Termasuk menentukan bagaimana nasib karyawan apabila perusahaan resmi bergabung dengan XL Axiata.
"Ya kita masih dalam proses evaluasi bersama. Mari kita tunggu teman-teman yang ahli berevaluasi. Apapun hasilnya pasti kita umumkan," katanya ketika ditemui di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (16/5/2024).
Baca Juga
Jumlah Operator Sudah Ideal, XL Axiata (EXCL) dan Smartfren (FREN) Masih Perlu Merger?
Merza menyebut merger XL Axiata dan Smartfren akan memberikan dampak positif, termasuk dari sisi operasional. Penggabungan usaha itu diharapkan membuat operasional bisa lebih efisien dari sebelumnya. "Sinergi ini kita harapkan menghasilkan kekuatan efisiensi yang luar biasa," tegasnya.
Nasib pekerja Smartfren menjadi sorotan, sebab pada tahun lalu, operator telekomunikasi itu merumahkan 376 orang pekerjanya. Berdasarkan laporan kinerja kuartal IV/2023, jumlah karyawan Smartfren dan entitas anak usahanya, termasuk karyawan kontrak adalah 2.431 orang hingga 31 Desember 2024.
Sejalan dengan penurunan jumlah pekerja, laporan tersebut juga mengungkap penurunan gaji pekerja Smartfren secara keseluruhan. Pada kuartal IV-2023, gaji pekerja di operator seluler itu turun 2,30% secara tahunan (year-on-year/yoy) atau sekitar Rp20,76 miliar.

