Biaya Operasional PLTU Terus Meningkat, Energi Terbarukan Bisa Jadi Solusi
JAKARTA, investortrust.id – Transisi energi fosil ke energi terbarukan bisa menjadi solusi mengatasi pembengkakan subsidi operasi PLTU yang terus bertambah setiap tahun ini.
Pembangunan PLTU yang dilakukan pemerintah secara besar-besaran pada 2006-2015 kini menjadi beban keuangan bagi PT PLN (Persero) dan juga anggaran negara.
Pada 2022, biaya operasional PLN mencapai Rp 386 triliun atau meningkat 20% dari 2021 sebesar Rp 323 triliun, yang didorong oleh pembayaran listrik ke produsen listrik swasta (independent power producer/IPP) dan biaya pembelian batu bara.
Baca Juga
Sumber Energi Terbarukan Capai 3,6 TW, Tapi Termanfaatkan Rendah, Kok Bisa?
Analis Keuangan Energi Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) Mutya Yustika menerangkan, transisi dari energi fosil ke energi terbarukan bisa menjadi solusi mengatasi masalah keuangan PLN ini.
“Dengan terus turunnya biaya pengembangan energi terbarukan dan terus meningkatnya biaya operasi PLTU batu bara, saat ini momentum yang tepat bagi Indonesia untuk mempercepat pensiun PLTU batu bara dan pembangunan energi terbarukan,” katanya dalam keterangan yang diterima Investortrust, Selasa (14/5/2024).
Dalam laporan IEEFA, Yustika mengungkapkan, Indonesia diperkirakan tidak dapat merealisasikan target energi terbarukan. Hal ini karena adanya persepsi salah bahwa pembangunan energi terbarukan skala besar itu mahal.
Baca Juga
Prajogo Pangestu, Konglomerat Pionir Bisnis Geothermal Terbesar
Padahal, kemajuan teknologi energi terbarukan telah membuat produksi energi menjadi lebih efisien, modal belanja serta biaya operasi dan perawatan yang lebih rendah, dan infrastruktur yang berkelanjutan.
“Secara global, biaya energi terbarukan, terutama surya dan angin, telah turun dalam lima tahun terakhir dan menjadi lebih murah dibandingkan dengan bahan bakar fosil, dan biaya panel surya diperkirakan akan terus turun,” ujar Yustika.
Yustika memaparkan, meski Pemerintah Indonesia mengeluarjan peraturan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang mewajibkan pemanfaatan produk dalam negeri dalam produksi industrial meningkatkan biaya investasi energi terbarukan, biaya listrik rata-rata (Levelized Cost of Electricity/LCOE) surya dan angin tetap kompetitif dibandingkan dengan batu bara dan diperkirakan akan jadi lebih murah pada 2030.
Baca Juga
Di COP28 Dubai, Pertamina Sebut Panas Bumi Energi Terbarukan Paling Potensial
“Kelebihan lain dari proyek energi terbarukan, utamanya surya dan angin, adalah teknologi tersebut bisa dibangun jauh lebih cepat dibandingkan dengan pembangkit listrik energi fosil,” jelas dia.
Indonesia hanya memiliki waktu kurang dari tujuh tahun untuk merealisasikan komitmen Perjanjian Paris. Meski telah menetapkan target 23% pada 2025, namun kontribusi energi terbarukan di bauran listrik Indonesia hanya mencapai 13,1% pada 2023.

