XL Axiata: Belum Waktunya Perluasan Jaringan Seluler dengan Satelit
JAKARTA, investortrust.id - Operator seluler PT XL Axiata Tbk (EXCL) menilai teknologi satelit masih belum mendukung perluasan jaringan seluler, khususnya jaringan 5G secara efisien di Tanah Air.
Menurut Direktur & Chief Technology Officer (CTO) XL Axiata I Gede Darmayusa, perluasan jaringan seluler, khususnya jaringan 5G hingga beberapa tahun ke depan masih akan mengandalkan stasiun pemancar atau Base Transceiver Station (BTS).
Gede menyebut kapasitas satelit masih belum bisa menyamai kapasitas jaringan seluler menggunakan BTS dan kabel serat optik. Kapasitas satelit untuk memenuhi kebutuhan jaringan internet saat ini tak lebih dari 20 MB.
"Untuk saat ini, tentunya kapasitas itu belum ada. Belum semua satelit (yang dibutuhkan) ada di atas. Entah berapa tahun lagi kita enggak tahu. Sampai pada saatnya nanti mereka bisa cover 1 site 1 GB (gigabit), saat itulah (jaringan) 5G bisa mengandalkan satelit," katanya Ketika ditemui di XL Axiata Tower, Jakarta Selatan, akhir pekan lalu.
Baca Juga
Ini Alasan XL Axiata (EXCL) Masih Pertahankan BTS 2G di Tengah Gempuran 4G dan 5G
Salah satu contoh upaya penambahan kapasitas adalah ekspansi layanan internet berbasis satelit orbit rendah (Low Earth Orbit/LEO) Starlink. Layanan yang ditawarkan SpaceX itu tidak sekadar memperluas area cakupannya di seluruh dunia, tetapi juga kapasitasnya
"Mereka membangun network satelit dengan ribuan, targetnya 4 ribu malah lebih, karena bukan hanya mengejar coverage. Karena kalau coverage saja 400-500 MB (megabit) sudah cukup. Tetapi mereka malah sampai 3.000 MB bahkan sampai 4.000 MB karena mereka ingin mengejar kapasitas," tuturnya.
Gede memprediksi, perluasan area cakupan jaringan 5G operator seluler menggunakan satelit bisa dilakukan paling cepat dua tahun lagi. Seiring dengan penambahan spektrum frekuensi dan jumlah penggunanya di Tanah Air.
"Jadi, untuk satelit bisa meng-catch up keperluan 5G, ini akan membutuhkan 2 sampai 4 tahun lagi. Mungkin pada saat itu 5G memang sudah mature. Untuk saat ini masih mengandalkan fiber optik, masih mengandalkan microwave dulu," tuturnya.
Baca Juga
Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi mengatakan perluasan akses internet di Tanah Air di masa depan tidak lagi mengandalkan BTS seperti saat ini. Penggunaan satelit dinilai lebih efisien untuk memperluas jaringan internet di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang penuh dengan tantangan geografis.
"Kan belum tentu teknologinya BTS, kalau ada satelit. Kan telekomunikasi seluler cuma tiga, fixed broadband, mobile wireless, satelit," katanya Ketika ditemui di Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi (BBPPT) Kemenkominfo, Depok, Kamis (3/5/2024).
Budi Arie menyebut masih ada ketimpangan antara kota-kota besar di Jawa, khususnya Jakarta dengan wilayah di luar Jawa, khususnya Indonesia bagian timur dari segi akses internet. Oleh karena itu, penggunaan teknologi satelit menjadi penting seperti yang sudah dilakukan lewat satelit SATRIA-1.
"Isu kecepatan internet satu sisi, isu coverage juga penting. Kita kan membangun Indonesia sentris. Kalau di Jakarta, di daerah-daerah pulau Jawa kan relatif sinyal sudah bagus. Kalau daerah lainnya, seperti Indonesia timur perlu perhatian," tegasnya.

