Ini 3 Sektor Prospektif, Namun Penuh Tantangan
JAKARTA, Investortrust.id – Indonesia sebagai negara kepulauan yang didominiasi oleh perairan, terletak di garis Katulistiwa plus dengan tanah yang subur, memiliki sejumlah potensi sumber daya alam yang bisa di-generate menjadi sumber pendapatan negara. Badan Pusat Statistik sendiri menyebut Indonesia punya lima sektor yang telah menjadi penopang perekonomian di kuartal-IV 2022, yaitu industri, perdagangan, pertanian, pertambangan, dan konstruksi.
Di sektor pertanian, minyak sawit (CPO) menjadi sub sektor industri pertanian dan perkebunan yang mampu menjadi penyumbang devisa negara yang cukup signifikan. Salah satu pendorongnya adalah tingginya permintaan di industri makanan dan minuman di dalam negeri, plus untuk memenuhi demand di pasar ekspor global.
Disampaikan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono dalam kesempatan BNI Investor Daily Summit 2023, Selasa (24/10/2023), industri kelapa sawit telah menyumbang devisa senilai Rp 600 triliun, atau US$ 39,07 miliar, pada tahun lalu. Industri kelapa sawit juga menyerap 16 juta tenaga kerja.
Baca Juga
BI Sebut Pemilu dan Kenaikan Gaji ASN Dorong Pertumbuhan Ekonomi RI 2024
Meski demikian, Eddy mengatakan masih ada tantangan yang dihadapi. Tak semata tantangan dari luar negeri berupa embargo ekspor dan sejumlah regulasi di negara Zona Euro yang menyulitkan ekspor, tapi tantangan juga datang dari dalam negeri. “Indonesia itu penghasil terbesar sawit, tapi dihajar kanan-kiri, bahkan di dalam negeri,” kata Eddy dalam sesi diskusi Indonesia’s Potential Growth Sectors.
Salah satu tantangan yang datang dari dalam negeri yaitu regulasi. “Yang ngurusi sawit ini 30 kementerian dan lembaga. Coba bayangkan. Satu komoditi diurusi 30 kementerian dan lembaga. Tumpang tindihlah aturan itu,” ujar dia.
Ia pun menyatakan harapannya agar kebijakan yang dibuat pemerintah mampu menciptakan iklim berusaha yang kondusif bagi pelaku di industri sawit. Selain soal regulasi, industri minyak sawit juga menghadapi tantangan lain berupa cuaca, seperti fenomena El Nino. Eddy menyebut fenomena El Nino tahun ini tidak seperti yang pernah terjadi tahun 2015-2016, yang tidak menyebabkan produksi CPO mengalami penurunan.
Sementara itu El Nino tahun ini diperkirakan akan mengakibatkan keterlambatan panen kelapa sawit. Kendati belum terlalu signifikan. Namun demikian ia memprediksi penurunan produksi tandan buah sawit segar akan sangat terlihat di tahun depan.
Baca Juga
“Keterlambatan panen itu iya, tapi tidak sampai 10 persen. Tapi, nanti di tahun depan baru terjadi penurunan produksi,” ujarnya.
Sektor perikanan
Sementara itu sektor perikanan juga dinilai memiliki potensi yang besar, dengan wilayah perairan yang cukup luas di dalam negeri. Sama halnya dengan industri kelapa sawit, sektor perikanan pun punya sejumlah tantangan yang perlu dicarikan solusinya.
Diungkapkan Vice President of eFish Business Unit eFishery, Junandar Panggabean, ada tiga tantangan yang dihadapi industri perikanan. Pertama yaitu regenerasi pembudi daya.“Sekarang pembudi daya adalah generasi yang usianya di atas 40-45 tahun. Budi daya perikanan saat ini belum menjadi pilihan utama bagi generasi muda,” kata Junandar.
Junandar menyampaikan concern yang mendalam tentang rendahnya minat generasi muda memanfaatkan potensi di sektor budi daya perikanan. Hal ini tentu bisa berujung pada rendahnya produktifitas produk budi daya perikanan di dalam negeri di masa mendatang.
Tantangan berikutnya yang dihadapi sektor ini adalah rendahnya kepedulian mengenai budidaya ikan air tawar. Untuk meningkatkan kepedulian ini, dia menyebut salah satu caranya adalah dengan mengenalkan teknologi budi daya yang modern, efisien, dan menguntungkan. Berikutnya kendala yang ketiga ia menyebut tingginya biaya logistic dan panjangnya rantai pasok dari hulu hingga ke tangan konsumen. “Yang ketiga, yaitu terkait rantai pasok dan logistik,” kata dia.
Last but not least, Junandar menyebut harga jual ikan yang relatif stagnan. Sementara biaya produksi semakin semakin meningkat. “eFishery melihat ini sesuatu yang harus ditanggulangi bersama,” ujar dia.
Sektor pariwisata
Sektor pariwisata sempat mati suri saat pandemic merebak. Namun memasuki tahun 2022 industri ini mulai bangkit dengan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan nusantara (wisnus) berhasil melampaui target. Kemenparekraf mencatat pada 2022 terdapat kunjungan wisman sebanyak 5,5 juta kedatangan atau di atas target yang sejumlah 1,8- 3,6 juta kedatangan. Sedangkan pergerakan wisnus mencapai 800 juta perjalanan atau di atas target yang sebesar 550 juta perjalanan.
Di tahun ini Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menaikkan target kunjungan menjadi dua kali lipat. 8,5 juta kunjungan, dengan proyeksi perolehan devisa naik menjadi US$6 miliar dari sebelumnya yang ditargetkan sebesar US$ 2,07-5,95 miliar. Serta target mobilitas wisnus sebesar 1,2-1,4 miliar perjalanan.
Baca Juga
Akses Ekspor Langsung Produk Perikanan ke Hong Kong Dibuka dari Sulsel
Namun di tengah cerita peningkatan kunjungan wisawatan tadi, sektor pariwisata juga menyimpan sejumlah tantangan. Hal ini setidaknya disampaikan Strategy Officer Plataran Indonesia, Anandita Makes. Ia menyebut sektor pariwisata menjadi sektpr yang sangat beresiko sebagai sasaran investasi. Menurutnya untuk mengembangkan bisnis di sektor pariwisata dibutuhkan investasi yang besar.
“Siap berdarah-darah dulu, baru mendapatkan (untung),” kata Anandita.
Mengapa disebutnya berisiko, karena menurut Anandita sektor pariwisata sangat bergantung oleh sektor lain, salah satunya infrastruktur. Tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, tempat wisata tak akan berkembang.
“Pariwisata juga heavily regulated. Baik dari perpajakan, perizinan, dan berhubungan dengan regulasi,” ucap dia.
Anandita juga mengatakan sektor pariwisata juga rentan dengan tantangan uncertain world (dunia yang tak pasti). Salah satunya pandemi Covid-19 lalu yang menyebabkan anjloknya wisatawan.
“Pandemi Covid, pariwisata itu industri nomor satu yang terdampak pertama, tapi terakhir recover,” ujar dia. (CR-7)

