10 Tahun Beroperasi, Kubota Catat Penjualan 20 Ribu Unit Alat Pertanian di Indonesia
JAKARTA, investortrust.id – Anak usaha Kubota Corporation Jepang, PT Kubota Machinery Indonesia (PT KMI) mencatat angka penjualan alat pertanian sebanyak 20 ribu unit, selama 10 tahun beroperasi di Indonesia.
Sales Manager PT KMI, Melinda T Wulan mengungkapkan, pencapaian tersebut merupakan salah satu bentuk komitmen dari PT KMI untuk terus memastikan distribusi alat-alat pertanian dan memberikan layanan purna jual produk terbaik di berbagai wilayah Indonesia.
"Selama satu dekade ini, terhitung kami sudah menjual 20 ribu unit. Tentunya angka ini menjadi buah hasil yang luar biasa, di mana ini sekaligus menunjukkan integritas serta etos kerja yang sangat baik tentunya dari perusahaan kami sebagai penyedia alat-alat pertanian, ujar Melinda T Wulan dalam konferensi pers "Anniversary ke-10 PT Kubota Machinery Indonesia" di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Kamis (16/11/2023).
Baca Juga
Ekonom Harap Capres Pahami Tiga Persoalan Utama Ekonomi Negeri
Lebih lanjut, Melinda membeberkan, PT KMI kini telah menjadi market leader pendistribusian berbagai alat tani di Indonesia.
"Kita di industri ini yang memimpin di bandingkan dengan perusahaan lain, dengan total market value kita itu 50% per tahunnya. Bahkan, kita memiliki cakupan wilayah terbesar dengan total 60 dealer oulet di seluruh wilayah Indonesia," terangnya.
Tidak hanya itu, dalam perayaan satu dekadenya, PT KMI juga mengenalkan produk baru, yakni traktor MU5702 dan mesin panen DC70 Pro.
Baca Juga
Bank Commonwealth Bicara Terkait Akuisisi 99% Saham oleh OCBC NISP
"Pada Pameran PENAS 2023, tepatnya bulan Juni lalu, kami memperkenalkan produk terbaru kami, yaitu traktor MU5702 sebagai rangkaian kegiatan perayaan 10 tahun KMI," jelasnya.
Terakhir, Melinda menyampaikan, akan terus secara konsisten memberikan kontribusi terbaiknya dan solusi bagi pertanian Indonesia.
"Kami akan terus bekerja keras untuk meningkatkan kualitas hasil pertania kita ini dalam berbagai aspek, bukan hanya inovasi teknologi saja, tapi juga optimalisasi dari hasil produksi pertanian, dan tentunya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM)," tandasnya. (CR-2)
