Pupuk Cair Rumput Laut Berpotensi Dulang Devisa
JAKARTA, investortrust.id -- Sebagai negara kepulauan, Indonesia menjadi salah satu negara dengan penghasil rumput laut terbesar di dunia. Tingginya hasil produksi berpotensi besar untuk hilirisasi rumput laut agar menjadi produk yang bernilai tambah, salah satunya adalah pupuk cair organik.
Pengamat dan pelaku usaha rumput laut Kadin Indonesia, Yugi Prayanto mengatakan, pasar ekspor untuk pupuk cair organik semakin terbuka lebar dan berpotensi menjadi pundi-pundi devisa untuk Indonesia.
"Produksi kita cukup tinggi, sekarang tinggal bagaimana kita terus mengembangkan hilirisasi menjadi produk yang bernilai tambah," kata Yugi yang juga merupakan Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan 2010-2021.
Yugi yang saat ini menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Pembinaan UMKM dan Ekonomi Kerakyaatan Kadin Indonesia ini mengatakan, sebagai pilot project olahan pupuk cair, saat ini telah dilakukan kerja sama diantara nelayan dengan pengusaha untuk memenuhi permintaan ekspor ke Jepang. Pilot Project ini dilakukan di Lampung Selatan.
"Kami melibatkan sekitar 40 orang petani rumput laut. Hasil panen diolah dengan menggunakan mesin dengan nilai investasi Rp 10 miliar untuk 100 ton produksi," kata Yugi.
Menurut dia, berdasarkan asumsi pengalaman dari tim jepang, dengan potensi lahan 50 ribu ha bisa menghasilkan sekitar 18 juta ton rumput laut per tahun. Rencananya untuk proyek ini akan ditambahkan 20 ribu ha lahan potensial yang saat ini masih dalam proses pencarian lokasi dan uji kelayakan wilayah.
"Jadi, bisa diproyeksikan jika daerah penghasil rumput laut di seluruh Indonesia ini dimanfaatkan untuk pupuk organik, maka potensi ekonominya sangat tinggi. Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan ekspor, tapi juga bisa memenuhi kebutuhan pupuk cair organik dalam negeri, misalnya untuk padi, beras, sawit, dan lainnya," terang Yugi yang saat ini juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Bidang II Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Pusat.
Ia menyebut, investasi awal untuk pilot project bisnis ini totalnya dapat mencapai Rp 20 miliar. Proyek ini sejalan dengan program pemerintah untuk hilirisasi rumput laut yang inklusif, melibatkan para pelaku di ekosistem bisnis rumput laut.
"Kami lakukan hilirisasi tanpa mengurangi peran dan kontribusi pelaku trading, pedagang tradisional, maupun pembudi daya rumput laut," pungkas Yugi.
Baca Juga

