Sektor Ini Berpotensi Dulang Cuan saat Rupiah Melemah
JAKARTA, investortrusst.id – Head Customer Literation and Education PT Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi mengatakan, depresiasi atau pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mendatangkan dampak positif maupun negatif bagi emiten.
Emiten yang terdampak oleh depresiasi rupiah adalah yang bergerak pada bisnis pertambangan, manufaktur dan farmasi. Kinerja sektor-sektor tadi sangat tergantung pada kondisi ekspor dan impor.
Sebagaimana diketahui, nilai tukar rupiah berada di level Rp 15.924 atau turun 0,19% per dolar AS pada Jumat (9/8/2024) sore.
"Ada dua atau tiga sektor yang bisa diperhatikan (akibat fluktuasi nilai tukar). Yang diuntungkan (cuan) adalah pertambangan seperti batu bara, nikel, tembaga, dan emas," kata Audi saat menjadi nara sumber acara Indonesia Investment Education (IIE) secara daring, Sabtu, (10/8/2024).
Baca Juga
Bank Sampoerna Salurkan Kredit Rp 12,3 Triliun di Kuartal II 2024
Audi menyebut, laporan keuangan emiten-emiten tambang khususnya tambang batu bara, seperti bisa lihat PT Indika Energy Tbk (INDY), PT Harum Energy Tbk (HRUM) dan lainnya, umumnya menyajikannya dalam dolar AS.
"Ada di dalam (laporan keuangan) laba selisih kurs, jadi ketika harga komunitasnya stagnan, tapi harga sahamnya masih stabil? Padahal harga komoditasnya dibanding tahun sebelumnya sudah turun, sudah normalisasi. Tetapi (harga saham) masih sustain, ternyata karena laba selisih kursnya meningkat," terang Audi.
Audi mengatakan selisih kurs terjadi lantaran penjualan emiten tersebut rata-rata diperoleh dari pasar ekspor, sehingga yang diuntungkan adalah eksportir dalam dolar AS karena nilainya akan semakin besar.
Baca Juga
Antam (ANTM) Rilis Emas Batangan Seri ‘Indonesia Tanah Air Beta’ Jelang HUT ke-79 RI
Sementara sektor yang dirugikan terkait pemehan rupiah kata dia yakni sektor manufaktur dan farmasi. "Yang paling signifikan adalah farmasi atau obat-obatan. Kenapa? Bahan baku obat rata-rata 70% di Indonesia masih impor, impornya dalam bentuk dolar AS, jadi ketika rupiah melemah jelas expensesnya akan naik jadi marginnya semakin lama semakin tipis," imbuhnya.
Selain itu, Audi bilang, kebijakan moneter dan suku bunga juga mempengaruhi, ini akan membuat keuangan yang lainnya akan menjadi tertahan.
"Kalau misalkan mengalami pelemahan, jelas inflow akan investasi asing, baik yang langsung maupun yang melalui financial market, itu akan semakin terkurang. Tapi kalau misalkan stabil, lalu juga mata uangnya masih cenderung mengalami penguatan, itu akan membuat para investor ini akan lebih confidence. Makanya significantly impact," pungkasnya.

