Cara Pijak Bumi Hasilkan Sepatu Ramah Lingkungan
JAKARTA, Investortrust.id - Upaya memperpanjang usia produk menjadi bagian penting dari gerakan ekonomi sirkular. Produsen sepatu asal Bandung, Jawa Barat bernama Pijak Bumi hadir dengan gagasan itu.
"Sejak 2016 kami menerapkan pilar-pilar apa saja agar sampai ke sirkular ekonomi," kata Co-founder Pijak Bumi, Vania Audrey, di gelaran BRI UMKM Expo (RT) Brilianpreneur 2023, di JCC, Jakarta, Sabtu (9/12/2023).
Vania mengatakan Pijak Bumi lahir dari kegelisahan mengenai produk sepatu sehari-hari. Dia dan rekannya, khawatir produk sepatu dapat berdampak ke pengrajin, termasuk saat materialnya sudah usang dan terbuang.
Baca Juga
Revisi Aturan 2 Minggu, Indonesia Perketat Impor Pakaian, Sepatu, hingga Elektronika
"Produk dari pakaian, baju, sepatu itu dibuat dengan pola. Setiap pola ada sisa tumpukan kain. Itu kemana?" kata dia mempertanyakan sistem pengolahan.
Vania menyebut, kegelisahan itu berawal dari aktivitas perajin sepatu kulit Cibaduyut. Meski secara kualitas sepatu Cibaduyut diakui internasional, para perajin kulit itu bisa saja terpapar material pewarna sepatu kromium.
"Yang bisa bisa mencemari air dan keshatan pengolah kulit itu," ucap dia.
Untuk itu, kata Vania, Pijak Bumi berupaya mensubtisusi komponen berbahaya dari sepatu dengan katun yang ditanam organik. Alternatif bahan ini dipilih karena bahan katun organik bisa didaur ulang secara terpisah dari solnya.
"Sehingga siklus usia sepasang sepatu bisa diupayakan dari hulu dan hilir," ujar dia.
Baca Juga
Untuk melacak sepatu yang dibuat, Pijak Bumi menawarkan program ke pelanggannya. Vania mengatakan program yang dinamai Re:Bumi tersebut menawarkan pengembalian sepatu dari pembeli.
"Sepatu yang rusak bisa dikembalikan minimal bisa di-repair dulu. Ini memperpanjang usia sepatu supaya tidak segera langsung masuk ke TPA," kata dia.
Dia menyebut pilihan lain dari sepatu yang rusak tersebut itu bisa didonasikan kepada yang membutuhkan. Sementara itu, Pijak Bumi akan menggandeng mitra untuk mendaur ulang sepatu yang tidak layak pakai.
Di laman resminya, hasil daur ulang tersebut akan menghasilkan produk baru, di antaranya kacamata dan dompet kain.
Dengan kreativitas bisnis yang dikembangkan, Pijak Bumi telah mendapat sorotan dari pasar luar negeri.
"Sekarang Pijak Bumi telah dipasarkan secara retail di 15 negara lima negara. Saat ini kami sudah kerja sama B2B dengan (pembeli) Jepang, Swiss dan akan ekspansi ke Australia," ujar dia. (CR-7)

